Karena kita kaum berfikir yang punya hati

Untuk orang-orang yang selalu mengusung kebaikan, Orientasi dalam berfikir mereka  ini bukan saja untuk duniawi, tapi diutamakan ukhrawinya juga, diutamakan pada hal-hal yang menjaga diri sendiri dan umat dalam kebaikan-kebaikan.  Setelah lepas dari pemikiran-pemikiran duniawi yang hanya mementingkan diri sendiri, orientasi berfikir mereka fokus pada hal-hal yang menuju kebaikan. Tapi menuju hal-hal tersebutpun tak akan lepas dari perbedaan cara pandang manusia karena manusia adalah kaum yang berfikir. Akalpun seringkali membuat berbagai golongan terpecah, karena masing-masing punya pola fikir yang berbeda.Tapi pada akhirnya Allah lah yang akan mempersatukan kita, hati lah yang akan berperan sangat penting. Karena ketika hati itu rusak maka akan rusaklah semuanya, termsuk akal kita. Maka sangat penting menjaga tarbiyah dzatiyah kita dan melakukan riayah pada diri sendiri. Karena tentu ketika dihisab nanti, kita dihisab sendiri-sendiri tidak berjama'ah. Meski kita memang harus memilih satu dari pergerakan-pergerakan yang ada.


Melihat dan menanggapi gonjang-ganjing perbedaan cara berfikir pergerakan, dan kemudian adanya aksi saling hasud dan lain sebagainya, hati kita perlu berperan. Jangan lupakan adab! Boleh saja kita berbeda, tapi kita sesama muslim yang memahami adab bersaudara, boleh saja kita berbeda, tapi kita sesama muslim yang mengetahui proses tabayyun, tetap jaga hati-hati kita, karena bagaimanapun tujuan kita sama. Jika memang ada hal-hal yang perlu dibicarakan, terkait cara bergerak, maka sesama muslim perlu memberikan pemahaman yang baik, hingga pada akhirnya tidak saling hasud. Karena boleh jadi, pergerakan lain lebih mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tapi boleh jadi pergerakan sendiri yang lebih mengetahui. Tidak boleh saling merasa benar. Tapi jika memang ada bukti yang kuat, kesalahan itu tidak boleh dipertahankan, sehingga harus ada perbaikan-perbaikan, bukan malah, ketika tahu didalam ada yang salah, ssemua acuh, tak peduli, seolah saling menyalahkan. Karena kita kaum yang terdidik, pembenahan itu perlu. Ketika tahu ada yang salah, maka benahilah.

Saat ini, kita berfikir sama2 untuk kebaikan umat, tapi caranya saja yang berbeda-beda. Alangkah indah bila cara yang berbeda tersebut kita persatukan untuk saling melengkapi, meskipun kalau dipikir-pikir ini suatu hal yang tidak mungkin, karena setiap pergerakan punya kejumudan sendiri dan punya aturan masing-masing. Tapi cobalah tengok kedalam diri kita, saat kita bergabung kedalam jama'ah, jama'ah manapun itu, apakah akan terhindar dari ashabiyah atau sikap merasa diri ini paling benar? Bukankah tujuan kita sama? Lantas kenapa tidak coba saling memahami bahwa setiap pergerakan apapun itu punya cara yang berbeda, selama aqidah kita benar. Setiap pergerakan punya cara yang berbeda dalam menyikapi konflik terutama konflik2 yang terkait dengan degradasi moral,politik,aqidah dll. Disatu sisi kita melihat, "kok ada konflik begini, pergerakan itu adem2 aja", berhusnudzhanlah..siapa tahu saja pergerakan tersebut sedang merancang suatu ide dan kekuatan yang memang tidak heboh, tapi bersifat jangka panjang. Itu tidak salah bukan? Dan pergerakan yang terlihat adem2 saja inipun harus berhusnudzhan, tidak malah menyalahkan "kok kelompok tersebut, heboh banget ya, maksa banget", berhusnudzhanlah karena mereka bergerak karena refleks hati, palagi ketika ada penyesatan-penyesatan, mereka akan keras, karena mungkin saja itu merupakan refleks bara' mereka yang membenci apa yang Allah membenci. Berhusnudzhanlah..selama kita sama-sama bergerak, saling menerima kritik, dan melakukan perbaikan-perbaikan itu penting.Janganlah jadikan media-media itu sebagai sarana hasud yang pada akhirnya membuat umat saling mendengki.

Imam asy-Syahid Hasan Al-Banna berseru," Wahai Ikwah, setiap pejuang muslim itu adalah guru yang memiliki semua sifat yang semestinya ada pada guru; cahaya, hidayah, rahmat, dan kelembutan. Sehingga, pembebasan Islam berarti juga pembebasan demi peradaban, kemajuan, pengajaran, dan bimbingan kepada seluruh umat manusia"
Sekarang kita sudah sangat enak, bisa berdakwah lewat media kapan saja, tidak langsung terjadi propaganda yang ketika menuliskan tentang islam maka kita akan dibunuh dan lain sebagainya. Propaganda yang datang itu tidak lain serangan-serangan pemikiran pada akhirnya, yang berdampak sangat parah ke hati. Semoga kita semua menjadi umat yang bisa saling mencinti saudaranya, menjadi umat yang mengutamakan isi bukan hanya kulitnya. Wallahu A'lam Bis Shawwab


#The Tuff Muslimah#

0 komentar:

Posting Komentar