
Aku ingin menjadi polisi.
Meski aku seorang wanita, aku tetap ingin menjadi polisi.
... Aku suka sekali melihat film-film yang tokoh-nya adalah polisi, polisi wanita khususnya, atau agen-agen gitulah. Kebanyakan film itu semakin menginspirasiku. Angel’s eyes, Miss Congeniality, ada juga serial Mandarin dulu, judulnya Kesetiaan Bidadari, bagus buat referensiku nanti.
Yaah…. Kecuali film-film India, tentunya.
Habis, biasanya polisinya kalah sama sang jagoan. Terus juga polisinya banyak yang lemot, jadi pahlawan kesiangan (Kesorean atau kemalaman malahan), atauwa malah bekerjasama dengan penjahatnya. Wah… nggak patut ditiru itu. Meski ada juga polisinya yang keren.
Boleh dilihat, dalam keseharian, aku paling menjunjug tinggi peraturan. Di kompleks rumah maupun di sekolah. Aku paling anti melanggar yang namanya peraturan. Nggak heran, di sekolah aku dijadiin petugas penjaga pintu gerbang, nemenin pak satpam, untuk menjaring anak-anak yang terlambat masuk.
Hasilnya? Semua anak takut sama aku. Malah mereka bilang tampangku angker dan jutek. Alhamdulillah.
Soalnya gara-gara itu jumlah anak yang terlambat makin berkurang hari ke hari. Hmmm,
Oh ya, lupa!
Namaku Azizah..
****
“Qyu-qyu… susuwiwit-swit-swit! Motor baru nih!!” Nina, tetangga sebelah menggodaku.
Kebetulan aku memang lagi nyuci motor baru tadi siang beli.
Papa emang nggak pernah ingkar janji, begitu raportku diterima kemarin, dan aku masuk peingkat tiga besar, beliau bersedia membelikanku Mio ini. Alhamdulillah … kebetulan juga lagi ada rejeki sih.
“e-eh, ngapain kamu, Na?” sambil nyikat ban aku menoleh ke Nina yang lagi manggut-manggut sambil nyengir di depan pagar.
“Nggak… nggak lagi ngapa-ngapain! Cuma lagi mikir-mikir aja… kayaknya bagus banget kalau kamu nanti malam kamu antar aku jalan-jalan ke mall! Nah!
“Nah, neh, noh! Gampang aja kalau ngomong! Aku belum punya SIM, Na! nggak berani…!”
“Ye ile…. Timbang ke mall aja pake SIM segala!”
“Ya iya lah! SIM itu kan petanda bahwa kita sudah diizinkan untuk mengendarai kendaraan , kalau belum ada yaa jangan berani-berani berkendra di jalan besar! Itu namanya melanggar peraturan! Nina malah ketawa.
“Dasar Bu Polisi! Yang namanya SIM itu cuman berlaku kalau kebetulan ketangkep polisi! Emangnya polisitahu siapa yang punya SIM dan siapa yang nggak, di jalan raya gede gitu?”
“Polisi emang gak tahu, tapi Allah tahu!”
Nina diem. Terus manyun.
“Yaaa…!” tampangnya kecewa.
“Zah, kamu nggak tahu ya kalau si Tito belum punya SIM?” Nina angkat suara lagi.
Aku menatap Nina dalam, “Kamu serius Na?”
“Swear!”
“Lo, dia kan setiap hari naik motor ke sekolahnya!” keningku mengernyit.
“Yap! Itu dia… dia aja berani bolak-balik sekolah naik motor meski gak punya SIM, masa’ iya kamu takut Zah!!!”
Aku langsung mematikan air keran. Ngebenerin posisi jilbabku, terus segera make’ sandal.
“E… eh, mau kemana Zah?” Nina menahankudi depan pintu pagar.
“aku mau nyamperin si Tito ke rumahnya, mo’ ngomelin tuh anak! Berani-beraninya dia melanggar aturan!!”
Tampang Nina berubah panic.
“Eh … jangan-jangan!!!”
“Nggak bisa begitu! Keadilan harus ditegakkan, Na! kalau nggak… kapan kesejahteraan datang coba??”
Nina bengong.
“Hhh … ya sudahlah! Sore ini anggab saja aku sedang berbaik hati sama si Tito!” aku kembali membuka kran dan mwngambil selang air dan segera membersihkan sabun-sabun yang masih ada di Mio-ku.
“Terus gimana donk?” Nina manyun.
“Ha?” aku jadi bingung. “Gimana apanya, Na? Si Tito?” tayaku lagi.
“Bukan! Ke mall-nya, aku kan pengen naik motor ini juga ke mall!”
Ooh. Aku langsung terseyum lebar.
“Beres, bos! Besok aku mau ke polres kok”
“Ha? Ngapai?”
“Yee … dasar nggak loading! Ya … ngebuat SIM lah!!!”
****
“Qyu-qyu… sususwiwit”
Gerbang polres sudah di depan mata, tempat yang amat gagah di mataku saat ini. Jujur, baru sekali ini aku ke sini. Soalnya agak jauh sih dari rumahku.
Kubelokkan Mio-ku ke tempat parker samping kanan polres. Aku berani bawa motor ini soalya tadi malam Papa bilang bahwa biasanya aka nada test tulis dan praktik naik motornya langsung. Aku kan ingin ngambil SIM C.
Segera setelah dapat tempat parker yang pe-we, kumatikan mesin, kubuka helm. Aku ngerapiin jilbab lewat kaca spion, terus nerima kartu parkir dari petugas dengan senyumku yang termanis. Kemudian segera menuju gerbang polres dengan langkah yang gagah.
Hhh. Bismillahirrahmaanirrahiim
Ajaib. Baru jalan lima langkah dari tempat parkir. Sudah ada seorang laki-laki berbadan besar dan berambut gondrong dikuncir mendekatiku.
“Mau buat SIM ya, Mbak?” tanyanya ramah.
“O… eh, iya nih Mas!” aku salting. Emangnya di mukaku ada gambar SIM-nya ya? Kok dia bisa tahu??
“Mau dibantu? Saya juga mantan polisi sini…,” laki-laki itu semakin mendekatiku dan menunjukkan sebuah tanda pengenal di dompetnya. Benar! Dia polisi! Wah.. wah, berarti polisi preman nih… Ok’s juga!
“Pasti dong! Masa’ dibantuin nggak mau?” seruku spontan.
“Ya sudah, kalau gitu mbak tinggal tunggu di sini. Satu jam paling langsung jadi!”
Eh? Aku bengong.
“Nggak ada ujian tulis sama praktiknya nih, Mas?” tanyaku polos. Mas itu ketawa.
“Kalau ada ujian-ujian segala, ya… berarti saya nggak bantuin Mbak namanya. Lha, emang itu prosedurnya kan!”
“Lho… lho?” Aku jadi nggak ngerti.
“Mas mau bantuin gimana ya?”
“Gini, Mbak mau buat SIM A apa C?”
“C”
“Ya udah, Mbak tinggal bayar tiga ratus lima belas ribu aja ke saya, nanti saya bawa KTP Mbak! Sejam setelahnya Mbak bakalan difoto. Habis itu jadi SIMnya!”
Wah-wah, aku mulai ada firasat nggak beres.
“Kalau di dalam emang bayarnya berapa Mas?”
“Yah sekitar enam lima sampai tujuh lima ribu lah!”
“Lho! Kalau gitu Mas bukan bantuin saya namanya! Kok mahalnya lebih dari dua ratus persen gitu?! Itu nembak namanya!” aku mulai benar-benar curiga. Mas itu cuman ketawa..
“Ya terserah Mbak aja, kalau Mbak mau ngantri lama, berjam-jam, capek ngurus surat kesehatan, registrasi segala macam, ikut ujian tulis sama praktik, yaaa… silakan langsung ke dalam. Tapi kalau Mbak mau lebih gampang lebih cepat, instant, saya bisa bantu!”
“Wah kalau gitu biar saya ikut prosedurnya aja deh! Kebetulan saya emang mau tahu cara pembuatan SIM tuh, Mas! Maaf!” aku langsung ngeloyor pergi. Pas aku nengok ke belakang. Eeh, mas itu udah nyari “korban” baru.
Wah, wah! Sory-sory deh, aku pikir pengalaman hidup itu ya nggak mungkin instan, jadi… yang praktis-praktis gitu jelas bukan caraku. Lebih gampang sih, But….
Setelah kejadian tadi aku pikir jalan masukku ke dalam polres sudah mulus, eeh ternyata …
“Mbak, mbak… mo’ ngapain?” Upsss?
Seorang polisi berkacamata hitam yang duduk di depan pintu gerbang , berseragam lengkap dengan handy-talky di tangan, memanggilku. Tanpa banyak cingcong, aku langsung menghampiriya.
“Pagi, Pak!”
“Pagi! Mbak mau buat SIM atau memperpanjang?” tanyanya to the point.
“Baru mau buat, Pak!” jawabku hormat. Polisi itu manggut-manggut.
“Mau saya bantu?” Eh?
“Alhamdulillah, Pak! Tentu mau,” jawabku sekali lagi. Polos.
“Oke, kalau gitu Mbak bisa bayar tiga ratus lima belas ribu!”
“Hah??” aku kaget setengah hidup. Kok sama aja sama mas-mas preman tadi sih?
“Nng, katanya di dalam sana bayarnya Cuma tujuh puluh lima ribu Pak!”
“Ya, memang! Tapi tadi Mbak bilang mau saya bantu!” Bapak itu dengan gaya angkuh memandang ke arah lain, tidak kepadaku.
Aku coba nguji.
“Seratus ribu aja deh, Pak. Saya kan nggak ada uang segitu!”
“Hmmm, kalau gitu lebih baik ke dalam saja!”
Iiih? Aku langsung ngeloyor lagi, tapi dengan perasaan yang aneh, menyebalkan, nggak karu-karuan, intinya sih satu: KECEWA!!!
“Neng!” Nah lho, baru jalan enam langkah udah ada suara lagi. Panggilan apa lagi ini?
Begitu aku menoleh, seorang bapak dari ruangan satpam tengah mengejarku.
“Mo’ buat SIM ya, Nen?”
Aku tetep maksa senyum, “Iya Pak! Bapak mau bantu ya?” Kutembak langsung.
“Oh iya, Neng! Sini Bapak bantuin biar cepet!”
“Tapi saya Cuma adanya seratus ribu, Pak. Nggak pa-pa??”
“Lha Neng … kalau cuman segitu mah nggak usah masuk sekalian! Pulang aja deh, palingan juga gak lulus!” si Bapak yang tadinya bergairah, sekrang malah manyun. Aku kecewa lagi, senyumku surut.
“Yaudah, kalau Bapak nggak bisa bantu.”
Kuharap ini terakhir kalinya aku dipanggil untuk orang-orang yang menawarkan bantuan dengan pamrih.
Setelah itu, Alhamdulillah … akhirnya aku bisa juga masuk ruang pembuatan SIM di dalam gedung polres itu.
****
Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ruang itu sesak oleh ratusan orang. Fuiiihhh! Mana aku nggak ngerti harus mulai dari mana? Wahhh…
Aku berjalan ke arah seorang polisi yang duduk di sudut ruangan. Gayanya sih tegas.
“Permisi, Pak! Saya mau buat SIM, gimana caranya ya??” tanyaku sesopan mungkin.
“Ya? Adek bawa fotocopy kartu keluarga dan KTPnya?” Subhanallah, polisi ini menjawab dengan hangat. Ini dia polisi ideal yang selama ini aku ingin jadikan teladan! Alhamdulillah, ternyata ada juga di polres ini.
“Oh iya! Tentu Pak, ini dia…,” kukeluarkan fotokopi KK dan KTP-ku dari dalam tas.
“Oke, kalau begitu, Adek langsung daftar disana saja, SIM C kan? Bayar sesuai prosedur, kemudian Adek langsung ke ruangan ini…”
Alhamdulillah … Meski keringat telah menetes dari dahiku, namun rasanya tak berarti lagi dibandingkan senyum tulus dari pak polisi yang itu.
Ujian tulis. Akhirnya namaku dipanggil, setelah cukup lama menunggu dalam ketidakpastian.
Begitu memasuki ruangan, seorang bapak beracamata, sudah cukup berumur, sedang sibuk menghadapi setumpuk map. Dua orang polisi wanita juga sedang sibuk menghadapi dua orang pemuda yang sepertinya tidak lulus ujian tulis ini.
“Saya yakin saya bisa lulus Mbak!”
“Tapi buktinya? Mas kira saya asal-asal saja mengkoreksi? Tidak, Mas! Kalau tidak percaya, boleh saya lihatkan kuncinya. Silakan dicocokkan dengan jawaban Mas!”
“Tetap saja saya tidak percaya!”
Sedangkan laki-laki yang satunya…
“Mbak! Saya juga tidak lulus ujian tulis, tapi penting bagi saya mendapatkan SIM, bagaimana kalau berdamai!?”
“Bisa, Mbak?” Tanya laki-laki itu lagi.
Sang polwan terlihat nenelan ludah sebentar.
“Ya, insyaAllah bisa, Mas! Kita mengerti.”
“Ya kalau begitu tinggal tambah duaratus limabelas ribu saja!”
Eh? Kok bisa ada yang nggak lulus ya? Pertanyaannya emang sesulit apa sih?
Apa mungkin mereka aja yang….
MasyaAllah, aku nggak boleh berprasangka buruk. Astagfirullah…
Hmmm, yang penting aku harus yakin bisa lulus dalam ujian tulis ini! insyaAllah.
Bapak berkacamata itu telah berdiri di depanku, dan memberiku soal plu lembar jawaban.
“Waktunya tiga puluh menit!”
“Terimakasih, Pak!” seruku mencoba tersenyum, namun bapak itu tidak memperlihatkan reaksi balik.
Ah, sudahlah!
Aku mulai berkonsentrasi. Bismillahirrahmaanirrahiim
Hmmm…
Kubaca terlebih dahulu soal-soalnya…
Wah, tampaknya tidak sulit buatku! Cuma seputar peraturan lalulintas. Makanya sejak kecil.
Alhamdulillah…
Aku mulai mengisi lembar jawabanku.
****
“Maaf, Mbak! Mbak tidak lulus ujian tulis ini, Mbak bisa datang lagi minggu depan! Tapi kalau sudah mencoba tiga kali tidak lulus, Mbak harus ulang pendaftaran dari awal lagi.”
Eits? Astagfirullah! Aku? Nggak lulus? Masa’?
Ah, nggak mungkin lah! Soalnya bisa ku kuasai sebagian besar kok!
“Nng, kode soalnya nggak salah kunci tuh Mbak?” tanyaku mencoba memastikan.
“Ooohh, tentu tidak! Kuncinya cocok dengan kode soal kok, Mbak!”
Lho? Tapi…
Aku benar-benar nggak habis pikir, dan emang sama sekali nggak ada lintasan pikiran akan tidak lulus. Ini ujian berat. Jadi bagaimana ini? Kalau harus nunggu sampai minggu depan lama sekali jadinya! Bagaimana ini…?
Aku keluar dari ruag ujian tulis itu dengan gontai.
“Nggak lulus ya, Mbak?” seorang mas-mas bertanya. Aku cuman mengangguk lemas.
“Yah sayang mbak kalau harus menunggu ujian ulang minggu depan! Asal Mbak tahu aja ya… dulu pertama kali saya pikir saya emang nggak lulus, tapi pas nyoba lagi tetep nggak lulus lagi, dan kayaknya sih memang nggak bakal pernah lulus, Mbak! Saya saranin nih ya… Mbak nego harga aja deh! Paling sekitar duaratusan!” aku mengernyitkan kening, sulit sekali untuk mengucap terimakasih atas sarannya itu.
Kotor sekali seperti itu! Itu kan sama aja dengan nyogok. Dan, idealismeku nggak mengenal kata nyogok!
Tapi…
Tiba-tiba aku teringat perkataan bapak di pos satpam tadi, dia dengan pedenya menyuruh aku pulang dan tampaknya yakin sekali bahwa aku nggak baalan lulus.
“Lha Neng… kalau uang cuman segitu mah nggak usah masuk sekalian! Pulang aja deh, palingan nggak lulus!”
Dan ternyata aku memang nggak lulus. Kok bisa tepat begitu coba?
Tunggu, jangan-jangan…. Sebuah kecurigaan membersit di benakku.
Ya, ampun! Pantas saja semua calo di depan tadi menawariku dengan harga tigaratus limabelas ribu! Padahal biaya sebenarya cuman tujuh puluh ribu, kalau nggak ada apa-apanya nggak mungkin begini kan?
Dan kecurigaanku semakin besar, ketika satu orang peserta ujian tulis lagi keluar dari ruangan dengan lesu: TIDAK LULUS!
****
Aku Azizah. Dan niatku tak tergoyahkan. Aku ingin menjadi seorang polisi. Atasan polisi bahkan!
Dengan demikian, aku dapat mengingatkan para polisi lainnya untuk senantiasa sadar bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Sejujurnya, pembuatan SIM waktu itu benar-benar memberiku banyak inspirasi, lebih daripada sekedar menonton aktingnya J-Lo dan Sandra Bullock malahan.
Aku jadi semakin tahu bagimana kebusukan hidup ini.
Tapi tetap saja aka nada orang-orang yang bersih, InsyaAllah, seperti Bapak Polisi yang menyambut hangat di sudut ruangan tunggu waktu itu. Aku juga akan segera bergabung.
“Na, mau ke mana nih?”
“Ke Mall lagi, Zah! Enak dibonceng di belakang!”
“Yee dasar!”
“Udah bawa SIM belon, Zah?”
“Bereeeessss!!!” Aku menunjukan padanya SIM dalam kantong jaketku.
“Kartu segini harganya tigaratus limabelas ribu nih!” Seruku
“Iya! Tapi ngaku-ngakunya nggak sampai segitu kan?”
Aku ketawa. Tampaknya Nina sudah hafal baget cerita dariku itu.
“Yah, makanya Bu Polisi… nanti kalau udah jadi orang, jadilah yang jujur! Nggak usah ditutup-tutupin! Yah?” seru Nina, sok tua.
“Jadi kamu ngeledek nih, Na? Kamu pikir aku belum jadi orang apa?”
“Belum tuh!”
“Jadi?”
“Hahahahaha…”
Nina cuman ketawa lepas. Dasar!
Memperbaiki akhlak bertujuan untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah, hingga ia jernih bagaikan cermin yang dapat menerima cahaya Tuhan.
(Al-Ghazali)




