SIM



Aku ingin menjadi polisi.
Meski aku seorang wanita, aku tetap ingin menjadi polisi.
... Aku suka sekali melihat film-film yang tokoh-nya adalah polisi, polisi wanita khususnya, atau agen-agen gitulah. Kebanyakan film itu semakin menginspirasiku. Angel’s eyes, Miss Congeniality, ada juga serial Mandarin dulu, judulnya Kesetiaan Bidadari, bagus buat referensiku nanti.
Yaah…. Kecuali film-film India, tentunya.
Habis, biasanya polisinya kalah sama sang jagoan. Terus juga polisinya banyak yang lemot, jadi pahlawan kesiangan (Kesorean atau kemalaman malahan), atauwa malah bekerjasama dengan penjahatnya. Wah… nggak patut ditiru itu. Meski ada juga polisinya yang keren.
Boleh dilihat, dalam keseharian, aku paling menjunjug tinggi peraturan. Di kompleks rumah maupun di sekolah. Aku paling anti melanggar yang namanya peraturan. Nggak heran, di sekolah aku dijadiin petugas penjaga pintu gerbang, nemenin pak satpam, untuk menjaring anak-anak yang terlambat masuk.
Hasilnya? Semua anak takut sama aku. Malah mereka bilang tampangku angker dan jutek. Alhamdulillah.
Soalnya gara-gara itu jumlah anak yang terlambat makin berkurang hari ke hari. Hmmm,
Oh ya, lupa!
Namaku Azizah..

****

“Qyu-qyu… susuwiwit-swit-swit! Motor baru nih!!” Nina, tetangga sebelah menggodaku.
Kebetulan aku memang lagi nyuci motor baru tadi siang beli.
Papa emang nggak pernah ingkar janji, begitu raportku diterima kemarin, dan aku masuk peingkat tiga besar, beliau bersedia membelikanku Mio ini. Alhamdulillah … kebetulan juga lagi ada rejeki sih.
“e-eh, ngapain kamu, Na?” sambil nyikat ban aku menoleh ke Nina yang lagi manggut-manggut sambil nyengir di depan pagar.
“Nggak… nggak lagi ngapa-ngapain! Cuma lagi mikir-mikir aja… kayaknya bagus banget kalau kamu nanti malam kamu antar aku jalan-jalan ke mall! Nah!
“Nah, neh, noh! Gampang aja kalau ngomong! Aku belum punya SIM, Na! nggak berani…!”
“Ye ile…. Timbang ke mall aja pake SIM segala!”
“Ya iya lah! SIM itu kan petanda bahwa kita sudah diizinkan untuk mengendarai kendaraan , kalau belum ada yaa jangan berani-berani berkendra di jalan besar! Itu namanya melanggar peraturan! Nina malah ketawa.
“Dasar Bu Polisi! Yang namanya SIM itu cuman berlaku kalau kebetulan ketangkep polisi! Emangnya polisitahu siapa yang punya SIM dan siapa yang nggak, di jalan raya gede gitu?”
“Polisi emang gak tahu, tapi Allah tahu!”
Nina diem. Terus manyun.
“Yaaa…!” tampangnya kecewa.
“Zah, kamu nggak tahu ya kalau si Tito belum punya SIM?” Nina angkat suara lagi.
Aku menatap Nina dalam, “Kamu serius Na?”
“Swear!”
“Lo, dia kan setiap hari naik motor ke sekolahnya!” keningku mengernyit.
“Yap! Itu dia… dia aja berani bolak-balik sekolah naik motor meski gak punya SIM, masa’ iya kamu takut Zah!!!”
Aku langsung mematikan air keran. Ngebenerin posisi jilbabku, terus segera make’ sandal.
“E… eh, mau kemana Zah?” Nina menahankudi depan pintu pagar.
“aku mau nyamperin si Tito ke rumahnya, mo’ ngomelin tuh anak! Berani-beraninya dia melanggar aturan!!”
Tampang Nina berubah panic.
“Eh … jangan-jangan!!!”
“Nggak bisa begitu! Keadilan harus ditegakkan, Na! kalau nggak… kapan kesejahteraan datang coba??”
Nina bengong.
“Hhh … ya sudahlah! Sore ini anggab saja aku sedang berbaik hati sama si Tito!” aku kembali membuka kran dan mwngambil selang air dan segera membersihkan sabun-sabun yang masih ada di Mio-ku.
“Terus gimana donk?” Nina manyun.
“Ha?” aku jadi bingung. “Gimana apanya, Na? Si Tito?” tayaku lagi.
“Bukan! Ke mall-nya, aku kan pengen naik motor ini juga ke mall!”
Ooh. Aku langsung terseyum lebar.
“Beres, bos! Besok aku mau ke polres kok”
“Ha? Ngapai?”
“Yee … dasar nggak loading! Ya … ngebuat SIM lah!!!”

****

“Qyu-qyu… sususwiwit”
Gerbang polres sudah di depan mata, tempat yang amat gagah di mataku saat ini. Jujur, baru sekali ini aku ke sini. Soalnya agak jauh sih dari rumahku.
Kubelokkan Mio-ku ke tempat parker samping kanan polres. Aku berani bawa motor ini soalya tadi malam Papa bilang bahwa biasanya aka nada test tulis dan praktik naik motornya langsung. Aku kan ingin ngambil SIM C.
Segera setelah dapat tempat parker yang pe-we, kumatikan mesin, kubuka helm. Aku ngerapiin jilbab lewat kaca spion, terus nerima kartu parkir dari petugas dengan senyumku yang termanis. Kemudian segera menuju gerbang polres dengan langkah yang gagah.
Hhh. Bismillahirrahmaanirrahiim
Ajaib. Baru jalan lima langkah dari tempat parkir. Sudah ada seorang laki-laki berbadan besar dan berambut gondrong dikuncir mendekatiku.
“Mau buat SIM ya, Mbak?” tanyanya ramah.
“O… eh, iya nih Mas!” aku salting. Emangnya di mukaku ada gambar SIM-nya ya? Kok dia bisa tahu??
“Mau dibantu? Saya juga mantan polisi sini…,” laki-laki itu semakin mendekatiku dan menunjukkan sebuah tanda pengenal di dompetnya. Benar! Dia polisi! Wah.. wah, berarti polisi preman nih… Ok’s juga!
“Pasti dong! Masa’ dibantuin nggak mau?” seruku spontan.
“Ya sudah, kalau gitu mbak tinggal tunggu di sini. Satu jam paling langsung jadi!”
Eh? Aku bengong.
“Nggak ada ujian tulis sama praktiknya nih, Mas?” tanyaku polos. Mas itu ketawa.
“Kalau ada ujian-ujian segala, ya… berarti saya nggak bantuin Mbak namanya. Lha, emang itu prosedurnya kan!”
“Lho… lho?” Aku jadi nggak ngerti.
“Mas mau bantuin gimana ya?”
“Gini, Mbak mau buat SIM A apa C?”
“C”
“Ya udah, Mbak tinggal bayar tiga ratus lima belas ribu aja ke saya, nanti saya bawa KTP Mbak! Sejam setelahnya Mbak bakalan difoto. Habis itu jadi SIMnya!”
Wah-wah, aku mulai ada firasat nggak beres.
“Kalau di dalam emang bayarnya berapa Mas?”
“Yah sekitar enam lima sampai tujuh lima ribu lah!”
“Lho! Kalau gitu Mas bukan bantuin saya namanya! Kok mahalnya lebih dari dua ratus persen gitu?! Itu nembak namanya!” aku mulai benar-benar curiga. Mas itu cuman ketawa..
“Ya terserah Mbak aja, kalau Mbak mau ngantri lama, berjam-jam, capek ngurus surat kesehatan, registrasi segala macam, ikut ujian tulis sama praktik, yaaa… silakan langsung ke dalam. Tapi kalau Mbak mau lebih gampang lebih cepat, instant, saya bisa bantu!”
“Wah kalau gitu biar saya ikut prosedurnya aja deh! Kebetulan saya emang mau tahu cara pembuatan SIM tuh, Mas! Maaf!” aku langsung ngeloyor pergi. Pas aku nengok ke belakang. Eeh, mas itu udah nyari “korban” baru.
Wah, wah! Sory-sory deh, aku pikir pengalaman hidup itu ya nggak mungkin instan, jadi… yang praktis-praktis gitu jelas bukan caraku. Lebih gampang sih, But….
Setelah kejadian tadi aku pikir jalan masukku ke dalam polres sudah mulus, eeh ternyata …
“Mbak, mbak… mo’ ngapain?” Upsss?
Seorang polisi berkacamata hitam yang duduk di depan pintu gerbang , berseragam lengkap dengan handy-talky di tangan, memanggilku. Tanpa banyak cingcong, aku langsung menghampiriya.
“Pagi, Pak!”
“Pagi! Mbak mau buat SIM atau memperpanjang?” tanyanya to the point.
“Baru mau buat, Pak!” jawabku hormat. Polisi itu manggut-manggut.
“Mau saya bantu?” Eh?
“Alhamdulillah, Pak! Tentu mau,” jawabku sekali lagi. Polos.
“Oke, kalau gitu Mbak bisa bayar tiga ratus lima belas ribu!”
“Hah??” aku kaget setengah hidup. Kok sama aja sama mas-mas preman tadi sih?
“Nng, katanya di dalam sana bayarnya Cuma tujuh puluh lima ribu Pak!”
“Ya, memang! Tapi tadi Mbak bilang mau saya bantu!” Bapak itu dengan gaya angkuh memandang ke arah lain, tidak kepadaku.
Aku coba nguji.
“Seratus ribu aja deh, Pak. Saya kan nggak ada uang segitu!”
“Hmmm, kalau gitu lebih baik ke dalam saja!”
Iiih? Aku langsung ngeloyor lagi, tapi dengan perasaan yang aneh, menyebalkan, nggak karu-karuan, intinya sih satu: KECEWA!!!
“Neng!” Nah lho, baru jalan enam langkah udah ada suara lagi. Panggilan apa lagi ini?
Begitu aku menoleh, seorang bapak dari ruangan satpam tengah mengejarku.
“Mo’ buat SIM ya, Nen?”
Aku tetep maksa senyum, “Iya Pak! Bapak mau bantu ya?” Kutembak langsung.
“Oh iya, Neng! Sini Bapak bantuin biar cepet!”
“Tapi saya Cuma adanya seratus ribu, Pak. Nggak pa-pa??”
“Lha Neng … kalau cuman segitu mah nggak usah masuk sekalian! Pulang aja deh, palingan juga gak lulus!” si Bapak yang tadinya bergairah, sekrang malah manyun. Aku kecewa lagi, senyumku surut.
“Yaudah, kalau Bapak nggak bisa bantu.”
Kuharap ini terakhir kalinya aku dipanggil untuk orang-orang yang menawarkan bantuan dengan pamrih.
Setelah itu, Alhamdulillah … akhirnya aku bisa juga masuk ruang pembuatan SIM di dalam gedung polres itu.

****
Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Ruang itu sesak oleh ratusan orang. Fuiiihhh! Mana aku nggak ngerti harus mulai dari mana? Wahhh…
Aku berjalan ke arah seorang polisi yang duduk di sudut ruangan. Gayanya sih tegas.
“Permisi, Pak! Saya mau buat SIM, gimana caranya ya??” tanyaku sesopan mungkin.
“Ya? Adek bawa fotocopy kartu keluarga dan KTPnya?” Subhanallah, polisi ini menjawab dengan hangat. Ini dia polisi ideal yang selama ini aku ingin jadikan teladan! Alhamdulillah, ternyata ada juga di polres ini.
“Oh iya! Tentu Pak, ini dia…,” kukeluarkan fotokopi KK dan KTP-ku dari dalam tas.
“Oke, kalau begitu, Adek langsung daftar disana saja, SIM C kan? Bayar sesuai prosedur, kemudian Adek langsung ke ruangan ini…”
Alhamdulillah … Meski keringat telah menetes dari dahiku, namun rasanya tak berarti lagi dibandingkan senyum tulus dari pak polisi yang itu.
Ujian tulis. Akhirnya namaku dipanggil, setelah cukup lama menunggu dalam ketidakpastian.
Begitu memasuki ruangan, seorang bapak beracamata, sudah cukup berumur, sedang sibuk menghadapi setumpuk map. Dua orang polisi wanita juga sedang sibuk menghadapi dua orang pemuda yang sepertinya tidak lulus ujian tulis ini.
“Saya yakin saya bisa lulus Mbak!”
“Tapi buktinya? Mas kira saya asal-asal saja mengkoreksi? Tidak, Mas! Kalau tidak percaya, boleh saya lihatkan kuncinya. Silakan dicocokkan dengan jawaban Mas!”
“Tetap saja saya tidak percaya!”
Sedangkan laki-laki yang satunya…
“Mbak! Saya juga tidak lulus ujian tulis, tapi penting bagi saya mendapatkan SIM, bagaimana kalau berdamai!?”
“Bisa, Mbak?” Tanya laki-laki itu lagi.
Sang polwan terlihat nenelan ludah sebentar.
“Ya, insyaAllah bisa, Mas! Kita mengerti.”
“Ya kalau begitu tinggal tambah duaratus limabelas ribu saja!”
Eh? Kok bisa ada yang nggak lulus ya? Pertanyaannya emang sesulit apa sih?
Apa mungkin mereka aja yang….
MasyaAllah, aku nggak boleh berprasangka buruk. Astagfirullah…
Hmmm, yang penting aku harus yakin bisa lulus dalam ujian tulis ini! insyaAllah.
Bapak berkacamata itu telah berdiri di depanku, dan memberiku soal plu lembar jawaban.
“Waktunya tiga puluh menit!”
“Terimakasih, Pak!” seruku mencoba tersenyum, namun bapak itu tidak memperlihatkan reaksi balik.
Ah, sudahlah!
Aku mulai berkonsentrasi. Bismillahirrahmaanirrahiim
Hmmm…
Kubaca terlebih dahulu soal-soalnya…
Wah, tampaknya tidak sulit buatku! Cuma seputar peraturan lalulintas. Makanya sejak kecil.
Alhamdulillah…
Aku mulai mengisi lembar jawabanku.

****

“Maaf, Mbak! Mbak tidak lulus ujian tulis ini, Mbak bisa datang lagi minggu depan! Tapi kalau sudah mencoba tiga kali tidak lulus, Mbak harus ulang pendaftaran dari awal lagi.”
Eits? Astagfirullah! Aku? Nggak lulus? Masa’?
Ah, nggak mungkin lah! Soalnya bisa ku kuasai sebagian besar kok!
“Nng, kode soalnya nggak salah kunci tuh Mbak?” tanyaku mencoba memastikan.
“Ooohh, tentu tidak! Kuncinya cocok dengan kode soal kok, Mbak!”
Lho? Tapi…
Aku benar-benar nggak habis pikir, dan emang sama sekali nggak ada lintasan pikiran akan tidak lulus. Ini ujian berat. Jadi bagaimana ini? Kalau harus nunggu sampai minggu depan lama sekali jadinya! Bagaimana ini…?
Aku keluar dari ruag ujian tulis itu dengan gontai.
“Nggak lulus ya, Mbak?” seorang mas-mas bertanya. Aku cuman mengangguk lemas.
“Yah sayang mbak kalau harus menunggu ujian ulang minggu depan! Asal Mbak tahu aja ya… dulu pertama kali saya pikir saya emang nggak lulus, tapi pas nyoba lagi tetep nggak lulus lagi, dan kayaknya sih memang nggak bakal pernah lulus, Mbak! Saya saranin nih ya… Mbak nego harga aja deh! Paling sekitar duaratusan!” aku mengernyitkan kening, sulit sekali untuk mengucap terimakasih atas sarannya itu.
Kotor sekali seperti itu! Itu kan sama aja dengan nyogok. Dan, idealismeku nggak mengenal kata nyogok!
Tapi…
Tiba-tiba aku teringat perkataan bapak di pos satpam tadi, dia dengan pedenya menyuruh aku pulang dan tampaknya yakin sekali bahwa aku nggak baalan lulus.
“Lha Neng… kalau uang cuman segitu mah nggak usah masuk sekalian! Pulang aja deh, palingan nggak lulus!”
Dan ternyata aku memang nggak lulus. Kok bisa tepat begitu coba?
Tunggu, jangan-jangan…. Sebuah kecurigaan membersit di benakku.
Ya, ampun! Pantas saja semua calo di depan tadi menawariku dengan harga tigaratus limabelas ribu! Padahal biaya sebenarya cuman tujuh puluh ribu, kalau nggak ada apa-apanya nggak mungkin begini kan?
Dan kecurigaanku semakin besar, ketika satu orang peserta ujian tulis lagi keluar dari ruangan dengan lesu: TIDAK LULUS!

****

Aku Azizah. Dan niatku tak tergoyahkan. Aku ingin menjadi seorang polisi. Atasan polisi bahkan!
Dengan demikian, aku dapat mengingatkan para polisi lainnya untuk senantiasa sadar bahwa Allah Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Sejujurnya, pembuatan SIM waktu itu benar-benar memberiku banyak inspirasi, lebih daripada sekedar menonton aktingnya J-Lo dan Sandra Bullock malahan.
Aku jadi semakin tahu bagimana kebusukan hidup ini.
Tapi tetap saja aka nada orang-orang yang bersih, InsyaAllah, seperti Bapak Polisi yang menyambut hangat di sudut ruangan tunggu waktu itu. Aku juga akan segera bergabung.
“Na, mau ke mana nih?”
“Ke Mall lagi, Zah! Enak dibonceng di belakang!”
“Yee dasar!”
“Udah bawa SIM belon, Zah?”
“Bereeeessss!!!” Aku menunjukan padanya SIM dalam kantong jaketku.
“Kartu segini harganya tigaratus limabelas ribu nih!” Seruku
“Iya! Tapi ngaku-ngakunya nggak sampai segitu kan?”
Aku ketawa. Tampaknya Nina sudah hafal baget cerita dariku itu.
“Yah, makanya Bu Polisi… nanti kalau udah jadi orang, jadilah yang jujur! Nggak usah ditutup-tutupin! Yah?” seru Nina, sok tua.
“Jadi kamu ngeledek nih, Na? Kamu pikir aku belum jadi orang apa?”
“Belum tuh!”
“Jadi?”
“Hahahahaha…”
Nina cuman ketawa lepas. Dasar!


Memperbaiki akhlak bertujuan untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah, hingga ia jernih bagaikan cermin yang dapat menerima cahaya Tuhan.
(Al-Ghazali)

Tegar Melawan Arus Alma Zahira



KotaSantri.com "Pak, Lis nggak mau kerja!" lapor Budi salah seorang anggota timku. Dan aku mengerutkan kening.
... "Sejak dia datang, saya dan teman-teman sudah menduga kalau dia ikut aliran Islam garis keras. Dan sekarang, terbukti kan?" lanjut Budi berapi-api.
"Kalau laki-laki sudah saya tampar dia! Dia bilang begini Pak, "Bud, aku sudah menyelesaikan bagianku. Kutemukan kesalahan dalam pembebanan biaya sebesar ini. Kalau sekarang aku harus memperkecil atau menghilangkan kesalahan ini, walaupun ditawari imbalan satu milyar pun aku tidak bersedia! Kalau hasil kerjaku ini merisaukan kalian, aku bersedia mundur"", Budi dengan sinis mengulang kalimat Lis.
"Huh, munafik banget dia, sok suci, sok nggak butuh, sok,...!" Tambah Budi belum puas.

"Sudahlah Bud!"aku berusaha menghentikan umpatannya.
"Bapak nggak kesal dengan kata-katanya? Harusnya Bapak marah dong!"
"Nanti saya bicara langsung sama Lis. Sekarang, selesaikan saja pekerjaanmu!".

Lalu Budi meninggalkan mejaku. Aku terpekur. Sebagai Ketua Tim sekaligus Koordinator Bidang Pemeriksaan, masalah ini seakan menamparku. Marah tapi ragu. Karena baru kali ini kutemukan seorang pemeriksa yang berprinsip seperti Lis. Ya, seperti aku dan yang lain, ditegaskan pada bidang pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan adalah suatu rejeki nomplok. Banyak orang yang menginginkannya. Ladang basah, katanya! Tapi heran sama yang satu ini. Kok malah tidak mau!

Namanya Lisda Roselinda Kusnadi. Manis, anggun, tinggi semampai, tuturnya ramah dan penuh senyum. Dia baru saja meraih gelar sarjana akuntannya. Umurnya diperkirakan 24 tahun. Dandanannya.... alamaak...!!! Di kantor juga banyak yang pakai jilbab, tapi tidak seperti dia. Bajunya ukurannya extra large alias gombrong. Jilbabnya menutup hampir sebagian tubuhnya. Dari lima bujangan yang ada di ruanganku tentunya termasuk aku. Sepakat kalau Lis memang good looking. Tapi sayang, penampilannya kampungan banget. Tapi seperti biasalah, ada yang menyukai karena keramahan dan kebaikannya, dan ada juga yang membencinya karena ke-sok suciannya. Ya... namanya juga manusia.

Sejak pertamakali kedatangannya. Penampilan Lis memang sudah menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Sedangkan aku, entah mengapa justru merasa tertarik. Melihat pribadinya aku seperti menemukan sesuatu yang selama ini kucari. Dia berbeda dengan wanita-wanita yang pernah jadi pacarku. Ya.. terus terang saja aku sempat merasa antipati pada perempuan karena trauma atas kegagalanku menuju jenjang pernikahan. Namun dengan adanya Lis, justru menggugah keinginan yang lama terpendam. Apakah aku jatuh cin...., ah aku tidak mau memvonis diriku sendiri. Aku kan atasannya!

***

"Suka baca juga ya?" tanyaku ketika berada di depan mejanya. Dia tersenyum dan mengangguk. Kulihat sekilas ada alquran kecil, majalah Ummi, Sabili, dan beberapa buku Islam yang masih asing bagiku.

"Boleh aku pinjam?"
"Oh. Silakan Pak..." Jawabnya kaget sambil menyodorkan bukunya. Lalu kuambil buku tentang pernikahan.
"Kaset apa ini, Lis?" tanyaku sambil meraih sebuah kaset.
"Nasyid, Pak" jawabnya kikuk.
Nasyid?, sepertinya berbau-bau arab. Tapi malu ketahuan bengongnya aku pinjam juga kaset itu. Dan hatiku penuh pelangi.

***

Aku terhenyak dari lamunanku. Aku teringat janjiku pada Budi untuk bicara langsung pada Lis. Diingat-ingat, sejak awal aku merasa ragu mengikutkan Lis dalam kerja timku. Jujur pula aku akui, aku memang merasakan ada kesalahan dalam cara kerjaku selama ini. Ada permainan kotor. Aku sempat berpikir sama seperti Budi. Bahwa dia munafik! Ya biasalah namanya juga pegawai baru, idealismenya masih menggebu. Dan suatu saat, bisa jadi ia berubah!

Dan baru esok harinya, kupanggil Lis. Dia duduk menunduk di depan mejaku.
"Maaf Pak, apakah ini masalah pemeriksaan di PT Dressindo?" Lis menduga.
"lya betul ..." jawabku berat.
"Bapak pasti sudah mendengar cerita Budi.." Aku mengangguk. Menarik nafas bimbang.
"Pak..., saya minta maaf keberadaan saya mengganggu kekompakan tim. Tapi saya mohon Bapak bisa mengerti dengan keberatan saya. Sungguh saya tidak mau dan tidak bisa kalau harus memanipulasi data walaupun itu saling menguntungkan. Bukannya saya sok alim atau apalah menurut penilaian Bapak, saya hanya ingin mengerjakan segala sesuatu dengan kejujuran. Saya bisa berbohong, tapi apakah Bapak berani menjamin bahwa Allah tidak akan tahu?" Sekali lagi aku ditamparnya.

"Tapi Lis...., dengan prinsipmu itu berarti kamu melawan arus. Dan resikonya kamu bisa..."
"Saya tahu Pak. Bahkan saya sudah merasakannya sekarang. Digunjingkan, dianggap aneh, mungkin sebentar lagi disingkirkan. Berat memang saya rasakan. Tapi lebih berat lagi azab Allah, jika saya tidak menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang-Nya, Itu saja pertimbangan saya."

Kurasakan ada keteguhan dari ucapannya. Sungguh, aku kagum padanya. Aku pernah membaca sebuah hadits dari buku yang dipinjamkan Lis padaku. Dan sungguh, itu membuatku mulai mengerti dengan sikapnya yang melawan arus, begini "Jika kejujuran telah diabaikan, tunggulah kehancuran".

"Baiklah .. , saya akan mencoba mencari jalan keluarnya." janjiku mengakhiri pembicaraanku. Aku sudah tidak kuat, aku malu! Sungguh aku mengakui kebenaran yang diperjuangkannya. Kau bagaikan sekuntum mawar yang tegar di tengah gelombang kehidupan, Lis!

***

Lis akhirnya dikeluarkan dari Tim. Bosku yang memutuskannya. Kini dia hanya mengerjakan pekerjaan adminstrasi saja. Walau ia disingkirkan dan dijauhi, kulihat ketegaran pada dirinya. Tidak terlihat frustasi atau suram di wajahnya. Entahlah kalau itu terjadi padaku.

Lis tetap seperti Lis yang dulu. Ramah, murah senyum, dan taat beribadah. Aku kagum padanya. Jarang ada orang yang bisa Istiqomah di tengah-tengah uang yang berlimpah. Aku coba berdiskusi dengannya, menanyakan resep keteguhannya. Dan kunci dari itu semua adalah kebersihan hati. Perlahan aku menemukan cahaya dan ritme kehidupan yang lebih indah dengan kebersihan kerja, tutur kata, dan perilaku, walaupun tanpa bergelimang harta. Syair lagu dalam kaset pemberian Lis sungguh membantu menggugah kesadaranku.

Barangsiapa Allah tujuannya, niscaya dunia akan melayaninya
Namun siapa dunia tujuannya, niscaya kan letih dan pasti sengsara
Diperbudak dunia sampai akhir masa
Allah melihat, Allah mendengar, segala sikap dan kata-kata
Tiada kan luput satu pun jua, Allah tak kan lupa selama-lamanya..

Pria dan wanita



Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Begitu banyak makhluk Allah yang beridentitaskan laki laki di dunia ini. Namun tak sepenuhnya mereka itu “layak” dikatakan laki laki. Karena laki laki ada yang bersifat “pria” dan ada pula laki laki yang bersifat “cowok.” Di bawah ini kami buat sebuah pembeda antara karakter pria dan cowok. Semoga tips ini bermanfaat...

• Cowok itu memiliki rasa ketakutan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria.

Sifat kebanciannya juga lebih menonjol, karena ia sangat takut dengan beberapa resiko atau penolakan yang harus ia terima. Sedangkan pria memiliki keberanian yang dapat diandalkan. Ia tidak pernah merasa gentar, sepanjang apa yang dilakukannya tidak menyimpang dari aturan aturan agama. Ia juga memiliki kesungguhan dalam setiap keputusan yang diambilnya.Sebagai contoh :Seorang cowok akan mengajak seorang akhwat untuk janjian ketemuan di suatu tempat. Ia akan banyak pertimbangan tentang rumah sang akhwat yang jauh, jalanan yang becek atau macet, belum lagi harus berhadapan dengan bapak sang akhwat yang tampangnya sangar, dan lain lain. Ia akan lebih memilih faktor praktis dan ekonomisnya dibandingkan dengan arti tanggung jawab yang diembannya. Sedangkan seorang pria akan datang sendiri ke rumah akhwat, meminta izin dari ayah si gadis untuk mengajaknya jalan, dan mengembalikannya kepada si ayah setelah acara selesai. Seorang pria juga akan memegang aturan aturan yang ditetapkan oleh sang ayah, misalkan harus pulang sebelum jam sekian, dan lain lain.

• Cowok itu mencintai dengan fisiknya.

Sedangkan Pria mencintai dengan hatinya.Cowok dapat dengan mudah melirik wanita lain, karena ia mencintai seseorang dengan matanya. Dapat dengan mudah pula berpaling ke lain hati, jika wanita yang diajaknya jalan tak mau dipegang, karena ia mencintai dengan tangannya. Dan dapat dengan mudah pula terlontar kata “I love you...” atau “Maukah kau menjadi pacarku?” atau mungkin “Maaf, kita sudah tidak ada kecocokan lagi...”Sedangkan Pria, karena ia mencintai dengan hatinya, maka segala kecintaannya ia wujudkan dalam diamnya. Pria juga jauh lebih peka terhadap apa yang terbaik bagi wanitanya. Senantiasa memuliakan serta menjaga kehormatan diri dan wanitanya. Dan biasanya pria itu jauh lebih hangat dan romantis.

• Cowok mendapatkan cinta dengan instant.

Sedangkan pria mendapatkan cinta dengan ujian.Satu rayuan maut dari seorang cowok, sanggup membuatnya menjadi arjuna dalam sekejap. Terkadang pula, ketika rayuan itu gagal, ia akan menggunakan segala tipu dayanya untuk menjerat wanita yang diinginkannya. Karena instant, cinta seorang cowok umumnya tidak tahan lama. Kalaupun lama, biasanya akan banyak pertengkaran yang terjadi di antara keduanya.Lain cowok, lain juga dengan pria. Seorang pria mendapatkan cinta dengan melalui tempaan dan ujian dari-Nya. Ketangguhannya menjaga pandangannya, keistiqamahannya menggelar sajadah cinta dalam istikharahnya, serta kemampuannya mengekang keinginannya melalui puasanya dengan sendirinya akan membawanya pada cinta sejati yang dipilihkannya. Ia jarang mengucap cinta, namun sekali ucap, cinta itu akan dibingkainya dalam sebuah pinangan yang indah.

• Cowok akan membawa wanitanya pada segala macam hal yang ia maui.

Sedangkan pria, akan membawa wanitanya pada segala macam hal yang terbaik baginya, dan bagi wanitanya.Contoh,Seorang cowok yang hobi dugem, maka mau tak mau, suka tidak suka, ia akan membawa wanitanya bepergian ke tampat tempat yang demikian itu. Ia tidak akan peduli meski gadisnya adalah seorang muslimah yang teguh menjaga hijabnya,karena pada dasarnya ia tidak mampu memaknai arti kehormatan sebuah hijab itu sendiri.Sedangkan pria, ia hanya akan mengajak sang akhwat hanya pada saat saat yang perlu saja. Ia juga akan bertamu pada jam jam yang tertentu saja, dan ia juga tidak akan mengajak akhwatnya ke tempat tempat yang tidak semestinya. Hal itu tidak lepas dari pemahamannya,bahwa kemuliaan seorang wanita adalah kemuliaannya juga.

• Cowok,identik dengan usahanya untuk menyempurnakan fisik.

Sedangkan Pria lebih cenderung untuk mempermatang kepribadiannya.Contoh :Banyak sekali cowok yang diribetkan dengan perawatan ini, perawatan itu, di sini, di sana, dan sebagainya. Beberapa budget ia anggarkan agar fisiknya selalu tampil menawan, dan menarik bagi siapapun yang melihatnya. Hanya saja, sangat disayangkan ketika kesempurnaan fisik itu diraih, tidak serta merta dibarengi dengan akhlaq yang indah, sehingga tidak sedikit dari mereka yang justru malah terjerumus karena kesempurnaan fisiknya.Adapun pria, karena fokus tujuannya bersifat jangka panjang, maka ia akan selalu berusaha menjaga dan memperbaiki kepribadiannya agar dapat menjadi imam yang bijaksana bagi keluarganya kelak. Pria juga rajin membaca, selektif bergaul, dan berkata seperlunya.

• Cowok identik dengan janji. Sedangkan pria identik dengan prinsip dan komitmen.

• Cowok mudah melambung ketika dipuji,

sehingga ia dapat dengan mudah drop, patah hati dan stress ketika berbagai masalah menghampiri. Sedangkan Pria, dengan pribadinya yang matang akan selalu tenang dan menikmati setiap masalah yang dihadapinya. Ia akan berfikir bahwa masalah itu adalah sebuah tangga yang mempertinggi kedudukannya jika ia dapat melewati masalah itu.

.................................

Dan lain lainWallaahu a’lam bish showwab...

Nah sahabat lelakiku, Bagaimana dengan Anda? Anda masuk kategori cowok ataukah pria?

Sumber : Riset dan Catatan Harian Muhammad Hambali.“Jadikan Aku Imam Sejati”Ditulis di Niigata, 3 Maret 2012.

~*~ JIKA ENGKAU WANITA MULIA ~*~

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Kelembutanmu...Tidak berarti engkau mudah dijual beliEngkau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti.

Kelembutan bukan hiasan, bukan juga kebanggaanTapi engkau sayap kiri kepada suami yang sejati.

Disebalik bersihnya wajahmuDisebalik tabir dirimuAda rahasia agung yang tersembunyi di dalam diriItulah sekeping hati yang takut pada Ilahi.

Duhai wanita mulia...

Sucikanlah wajahmu dengan linangan air mata keinsyafan.

Basahilah lidahmu dengan berdzikir kepada penciptamu.

Takut dan gemetarlah bathinmu kepada kehebatan Rabb-mu.

Sulamilah dosa-dosa silammu dengan taubat kepada dzat yang memilikimu.

Duhai wanita mulia...

Peliharalah akhlakmu karena ia kehidupanmu.

Peliharalah agamamu karena ia adalah nyawamu.

Peliharalah budi pekertimu karena ia adalah lukisan kehidupanmu.

Peliharalah amalanmu karena ia adalah pakaian ukhrawimu.

Peliharalah lisanmu karena ia adalah hatimu, yang menentukan baik dan buruknya dirimu.

Duhai wanita mulia...Engkau pasti bisa !!

WANITA-WANITA PENGUKIR SEJARAH ISLAM




1. Khadijah RA. Nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’. Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah. Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy.

Nama lengkapnya Khadijah binti Khuwailid bin As’ad bin Abd Al Uzza’.

Ia dilahirkan di Makkah tahun 68 sebelum hijrah.

Ia adalah wanita yang sukses dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya.

Pada masa jahiliyah ia dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Orang-orang Quraisy menyebutnya sebagai pemimpin wanita Quraisy.

Rasulullah bersabda tentang Khadijah, “Allah tidak menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya. la beriman kepadaku di saat orang lain ingkar kepadaku, ia mempercayaiku di saat orang lain mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya di saat orang lain tidak ada yang menolongku, dan Allah telah mengaruniakan kepadaku putra (dari hasil perkawinan dengan) nya sedang wanita-wanita lain tidak.”

Keistimewaan Khadijah:

1. Ia adalah wanita yang pertama kali memeluk Islam. Ia beriman kepada Nabi disaat semua orang kafir padanya.

2. Ia adalah wanita pertama yang dijamin masuk surga bahkan ia mendapat kabar gembira dari Allah, bahwa Allah telah membangunkan bagi rumah di surga.

3. Manusia pertama yang mendapat salam dari Allah yang disampaikan dari langit ke tujuh. Ia pantas menerimanya karena selalu setia mendampingi Nabi dalam kondisi seperti apapun.

4. Wanita pertama yang layak dikategorikan shiddiq di antara wanita mukmin lainnya.

5. Mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan Nabi

6. Wanita yang memberikan keturunan bagi Nabi

7. Wanita yang matang dan cerdas, pandai menjaga kesucian, dan terpandang bahkan sejak masa jahiliyah dan diberi gelar Ath Thahiroh (wanita yang suci). Ia adalah orang yang terhormat, taat beragama dan sangat dermawan.

8. Seluruh hidupnya di berikan untuk mendukung dan membela dakwah Nabi.

9. Orang yang pertama shalat bersama Rasulullah

ada juga di : cintaimutzkhay.blogspot.com

2. Saudah binti Zam’ah Nama lengkapnya Saudah binti Zam’ah bin Qais. Ia masuk Islam bersama suaminya, Sakran bin Amr, di masa awal dakwah Islam. la ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia). Suaminya meninggal di Mekah setelah ia pulang dari Habasyah bersama kaum muslimin. Ia berpostur tubuh tinggi dan kurus. la terkenal suka berkelakar, bercanda, dan humor. la adalah wanita yang suka berderma

3. Aisyah binti Abu Bakar

Nama lengkapnya Aisyah binti Abi Bakar bin Utsman, biasa dipanggil Ummu Abdillah, dan digelari Ash-Shiddiqah (wanita yang membenarkan). la juga masyhur dengan panggilan ummul mukminin, dan Al-Humaira’, karena warna kulitnya sangat putih.la dilahirkan tahun ke-4 atau ke-5 setelah kenabian. la menceritakan, bahwa Nabi pernah mengatakan kepadanya, “Aku bermimpi melihat kamu sebanyak dua kali. Malaikat datang kepadaku dengan membawa selembar kain sutra (foto) sambil berkata, “Inilah istrimu, maka bukalah penutup wajahnya!” Setelah kubuka, ternyata itu adalah kamu. Maka aku berkata, “Sekiranya perkara ini datangnya dari Allah, pasti ia terlaksana.” (HR. Al-Bukhari)

4. Hafshah binti Umar bin Khatthab

Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin Khaththab. Lahir di Mekkah tahun 18 sebelum hijrah. Rasulullah melamar Hafshah kepada ayahnya Umar bin Khaththab, lalu Beliau menikahinya tahun 3 H. Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril mengatakan kepada Beliau, “Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang gemar berpuasa dan menunaikan shalat (malam), dan sesungguhnya dia adalah istrimu di surga.”la merawikan 60 hadits dari Nabi, 10 di antaranya terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari danShahih Muslim.

5. Zainab binti Khuzaimah Nama lengkapnya Zainab binti Khuzaimah bin Harits. la digelari dengan Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin). la termasuk orang yang mula-mula masuk Islam.Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia menikah dengan Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib. Suaminya, Ubaidah bin Harits, gugur sebagai syahid dalam perang Badar tahun ke-2 H. Setelah suaminya gugur dalam perang Badar, Rasulullah menikahinya pada tahun ke-3 H.

6. Ummu Salamah Nama lengkapnya Hindun binti Hudzaifah bin Mughirah Al-Qursyiyah Al-Makhzumiyah, biasa dipanggil Ummu Salamah. la dilahirkan tahun 28 sebelum hijrah. la termasuk orang yang mula-mula masuk Islam. Ia bersama suaminya, Abu Salamah, ikut berhijrah ke Habasyah. Di Habasyah, ia dikaruniai seorang anak, Salamah. Sepulang dari Habasyah, ia hijrah ke Madinah. Di madinah, ia dikarunia 3 orang anak, yaitu Umar, Ruqayyah, dan Zainab. la adalah wanita pertama yang berhijrah ke Madinah. la merawikan 378 hadits dari Nabi.

Dan Kitalah Penerusnyaaaaaaaaaaa :)

... SURAT TERBUKA UNTUK BANGSA INDONESIA DARI GAZA ...




Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Untuk saudaraku di Indonesia, ..Saya tidak tahu, mengapa saya harus menulis dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia .. Namun, jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa?? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim Terbanyak di punggung bumi ini .. bukankah demikian wahai saudaraku??? 

Disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis da’wah dari Jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini?!!!?. 

Wah,,,,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis & membuat saya berdecak kagum, Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku ..jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987 Sampai sekarang di gabung .. itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja ...

Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah? Wah?.wah?pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5 % dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya ..? .. Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia, ..

Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya & kami yang ada di GAZA ini, tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah? pasti sangat indah dan mengagumkan yah. Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negeri kalian..

Pasti para ibu-ibu disana amat mudah Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapatkan di toko-toko & para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.

Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku Tidak seperti di negeri kami ini, saudaraku, anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian. Bahkan tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah, Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil ... yah diatas mobil saudaraku!! 

Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu, Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum. Namun .., mengapa di negeri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah & ibunya, terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah ...itu yang kami dapat dari informasi televisi.

Dan yang membuat saya terkejut dan merinding,,, ,, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA ... Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian ..???

Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut ..?!! !, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini. Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati, Namun, bukanlah diselokan-selokan .. atau got-got apalagi ditempat sampah? saudaraku! !!, Mereka mati syahid .. saudaraku! mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!!

Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel ... 

Saudaraku .., bagi kami nilai seorang bayi adalah Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini. Perlu kalian ketahui,,,sejak serangan Israel tanggal 27 desember (2009) kemarin, Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami Namun,,,,sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar ... Allahu Akbar!!!

Wahai saudaraku di Indonesia, ...

Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar, Apa karena kalian sulit mencari rezki disana ..? apa negeri kalian sedang di blokade juga ..? 

Perlu kalian ketahui .. saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan .., walau sudah lama kami diblokade .. Kalian terlalu manja?!? Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami. 

Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda Baru saja melangsungkan pernikahan,, ,yah,,,mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel, Mereka mengucapkan akad nikah, diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku. Dan Perdana menteri kami, yaitu ust Ismail Haniya memberikan santunan awal pernikahan Bagi semua keluarga baru tersebut.

Wahai Saudaraku di Indonesia, ..

Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqoh pembinaan Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut. 

Program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan Buku-buku pasti kalian telah lahap .., kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karena kalian punya waktu .. Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku ... Satu jam .., yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang Telah diberikan kepada kami. 

Kami di sini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut walau Cuma satu jam saudaraku ..,Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh, Seperti ta’aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami) dan takaful (saling menangung beban) di sana .. Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami .. Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai nyanyian perang kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana Dengan kalian?? 

Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al qur?an, umurnya baru 10 tahun , Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang. 

Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah Diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma .., yah di tempat itulah mereka belajar Saudaraku,, bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel? Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal .., karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung Mereka rasakan.

Wahai Saudaraku di Indonesia, ..

Oh, iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah, .. kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini. Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami di sini, termasuk kalian di Indonesia.

Namun,,,bukan tangisan kalian yang kami butuhkan saudaraku Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai Bukti ukhuwah kalian kepada kami. Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Oh.., iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia.

( Gaza City ..1430 H )

Akhhuka….. Abdullah

... Silakan baca rdan esapi surat diatas, betapa miris dan terlukanya hati saat surat diatas diterima nurani kita, betapa terlukanya saudara kita disana. Tetap dukung mereka walau hanya Do’a ataupun dana yang bisa kita lakukan, Allahu Akbar ...

~ o ~

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ....

Silahkan DICOPAS atau DI SHARE, dan Silahkan juga untuk men-TaG Sendiri'' atau Saling Bantu membantu NgEtaG .. jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#------------------------------------------------.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik ....

** Sumber : hafez.wordpress.com

Kisah Hikmah Sabar dan Ikhlas



 

Seorang pria berumur 61 tahun bernama Asep Sudrajat menghidupi keluarganya dengan membuka sebuah toko berukuran 3 x 4 meter di sebuah jalan di kota Bandung. Tiada yang mendampingi hidupnya di rumah selain Asih, istrinya. Sudah puluhan tahun berumah tangga, Allah Swt Sang Maha Pencipta belum berkenan memberikan mereka keturunan.Namun baik Asep dan Asih adalah model makhluk Tuhan yang menerima segala ketetapan. Mereka selalu menghiasi hidup dengan pengharapan terhadap Tuhan. Bersyukur atas segala nikmat yang mereka terima, dan bersabar atas segala ujian yang diberikan.

Hampir dua puluh tahun mereka menabung demi mewujudkan cita-cita. Sebuah cita-cita mulia yang mereka tanamkan dalam hati, untuk berangkat haji ke Baitullah, Mekkah Al Mukarramah. Dengan hasil dagang di toko yang seadanya, sedikit demi sedikit mereka sisihkan untuk menggapai cita-cita itu. Hanya ibadah haji saja dalam benak mereka yang belum pernah mereka lakukan. Keinginan itu terus membuncah, menggelegak dalam dada seorang hamba yang rindu akan keridhaan Tuhannya.

Hasil tabungan yang mereka kumpulkan tidak mereka tabung di bank. Sengaja uang sejumlah itu mereka simpan agar dapat memotivasi semangat mereka untuk mencari tambahan uang sesegera mungkin. Sungguh dua puluh tahun dalam menabung, merupakan masa yang cukup panjang untuk bersabar demi mewujudkan ketaatan kepada Tuhan. Tidak banyak, manusia modern di zaman sekarang yang mampu memiliki niat sedemikian.

Malam itu, Asep dan Asih sekali lagi menghitung jumlah tabungan mereka. Uang yang mereka simpan untuk berhaji itu kini berjumlah Rp. 50.830.000. Sementara biaya haji pada saat itu berkisar kurang lebih Rp 27 juta per orang, belum lagi biaya bimbingan haji yang harus mereka ikuti, ditambah dengan uang jajan tambahan untuk membeli oleh-oleh. Mereka menghitung, kurang lebih mereka memerlukan dana berkisar Rp 10 juta. Setiap malam berlalu, Asep dan Asih selalu menghitung peruntungan jualan mereka, dan sebagiannya mereka sisihkan untuk mewujudkan cita-cita berhaji.

Suatu pagi, Asep mendengar kabar bahwa kawan karibnya dalam berjamaah shalat di Masjid As Shabirin jatuh sakit secara mendadak dan kini dirawat di RS. Dr. Hasan Sadikin. Setelah divisum oleh dokter rupanya penyakit yang diderita tetangga sekaligus kawan karibnya itu adalah penyakit tumor tulang. Sebuah penyakit yang jarang terjadi pada masyarakat Indonesia.
Bersegeralah, Asep menjenguk kawan karibnya itu. Sesampainya di sana, sahabat tersebut masih berada di ruang ICU dan untungnya masih sadarkan diri sehingga dapat melakukan percakapan dengan Asep. Dari penuturannya Asep mengetahui bahwa tumor tulang tersebut telah membuat tetangganya tidak mampu untuk berdiri lagi, dan tumor tersebut harus diangkat segera. Sebab bila tidak, maka tumor tersebut dapat menjalar ke bagian tubuh lain. Asep bergidik mendengarnya. Namun ia masih terus membesarkan hati sahabatnya itu untuk senantiasa tawakkal dan berdoa kepada Allah Swt Yang Maha Menyembuhkan setiap penyakit hamba-Nya.
Hampir setiap hari Asep menjenguk sahabatnya itu. Pada hari kedelapan, sahabatnya itu telah dipindah ke ruang rawat inap kelas 3, bersama tujuh pasien lainnya dalam satu kamar. Kamar tersebut pengap dengan bau obat, dan tidak layak disebut sebagai kamar rumah sakit. Pemandangan yang berantakan. Jemuran baju pasien dan pendamping yang bertebaran di sepanjang jendela. Seprai kasur yang tidak rapi. Tikar dan koran bertebaran di pojok-pojok kamar. Itu semua membuat pemandangan kamar menjadi tidak asri dan pengap. Namun apa mau dikata, tetangganya adalah seorang yang mungkin memilik nasib sama dengan jutaan orang di Indonesia. Sudah masuk rumah sakit saja Alhamdulillah, nggak tahu bayarnya pakai apa?
Hari itu adalah hari kesebelas sahabatnya dirawat di rumah sakit. Kebetulan Asep sedang berada di sana, seorang perawat membawakan sebuah surat dari rumah sakit bahwa untuk membuang tumor yang berada di sendi-sendi tulang pasien haruslah dijalankan sebuah operasi. Operasi itu akan menelan biaya hampir Rp 50 juta. Bila keluarga pasien mengharapkan kesembuhan, maka operasi tersebut harus dilakukan. Namun kalau mau berpasrah kepada takdir Tuhan, maka tinggal berdoa saja agar terjadi keajaiban.
Siapa orangnya yang tidak mau sembuh dari penyakit? Semua orang pun berharap sedemikian. Namun mau bilang apa? Keluarga sahabat Asep tersebut sudah menguras habis tabungan yang mereka miliki, namun itu semua untuk bayar biaya rumah sakit selama ini saja tidak cukup. Apalagi untuk membiayai proses operasi? Sungguh, yang mampu mereka lakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah Swt.Hari kedua belas, ketiga belas, keempat belas.... kondisi pasien semakin parah. Badannya terlihat kurus tak bertenaga. Kelemahan itu terlihat jelas dalam sorot cahaya mata yang kian meredup. Sang pasien tidak mampu lagi menanggapi lawan bicara. Tumor itu semakin mengganas dan menjalar ke seluruh tubuh. Pemandangan itu semakin menyentuh relung hati Asep yang terdalam. Maka di pinggir ranjang sahabatnya, Asep pun mengambil sebuah keputusan besar.
Setelah berpamitan dengan keluarga sahabatnya, ia bergegas pulang menuju rumah. Di sana terlihat olehnya Asih sedang melayani pembeli yang datang ke toko sederhana milik mereka. Saat pembeli sudah sepi, Asep lalu menyampaikan keputusannya itu kepada Asih.
“Bu..., Kang Endi tetangga kita yang sedang di rawat di rumah sakit itu kondisinya semakin memburuk. Bapak tidak sanggup melihat penderitaannya. Sepertinya kita harus bantu dia dan keluarganya. Tiga hari lalu, kebetulan bapak sedang di sana, seorang suster memberitahukan bahwa Kang Endi harus dioperasi segera. Keluarganya belum berani menyatakan iya, sebab biaya operasi itu hampir Rp 50 juta....” Asep membuka pembicaraannya dengan kalimat yang panjang.
Asih pun mulai merasa iba dengan penderitaan Kang Endi dan keluarganya, “Kasihan mereka ya, Pak! Kita bisa bantu apa...?” Asep pun langsung menyambung dengan cepat, “Kalau ibu berkenan, bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan saja kepada mereka semua untuk biaya operasi?” Kalimat itu diakhiri dengan sebuah senyum merekah di bibir Asep. “Diberikan....?!! Waduh pak..., hampir dua puluh tahun kita nabung dengan susah payah agar cita-cita berhaji dapat diwujudkan. Masa bisa pupus seketika dengan membantu orang lain yang bukan saudara kita?” Asih mengajukan penolakan atas usulan suaminya.
“Bu...., banyak orang yang berhaji belum tentu mabrur di sisi Allah. Mungkin ini adalah jalan buat kita untuk meraih keridhaan Allah Swt. Biarkan kita hanya berhaji di pekarangan rumah kita sendiri, tidak perlu ke Baitullah. Bapak yakin bila kita menolong saudara kita, Insya Allah, kita akan ditolong juga oleh Dia Yang Maha Kuasa.” Kalimat itu meluncur dari mulut Asep dan menohok relung hati Asih sehingga begitu membekas di dasarnya. Tak kuasa, Asih pun mengangguk dan setuju atas usul suaminya.Keesokan pagi, Asep dan Asih pun datang berdua ke rumah sakit untuk menjenguk. Toko mereka ditutup hari itu. Mereka berdua datang ke rumah sakit dengan membawa sebuah amplop tebal berisikan uang sejumlah Rp 50 juta yang tadinya mereka siapkan untuk berhaji.
Keduanya tiba di rumah sakit dan menjumpai Kang Endi dan keluarganya di sana. Usai membacakan doa untuk pasien, keduanya datang kepada istri Kang Endi. Mereka serahkan sejumlah uang tersebut, dan suasana menjadi haru seketika. Bagi keluarga Kang Endi ini adalah moment dimana doa diijabah oleh Tuhan. Sementara bagi Asep dan Asih, ini merupakan saat dimana keikhlasan menolong saudara harus ditunjukkan. Lalu pulanglah Asep dan Asih ke rumah setelah berpamitan kepada keluarga.
Uang itu kemudian segera dibawa oleh salah seorang anggota keluarga ke bagian administrasi rumah sakit. Formulir kesediaan menjalani operasi telah diisi. Besok pagi jam 08.00 operasi pengangkatan tumor di sendi-sendi tulang Kang Endi akan dilakukan. Alhamdulillah!
Esoknya Kang Endi sudah dibawa ke ruang operasi. Sebelum dioperasi, dokter spesialis tulang yang selama ini menangani Kang Endi sempat berbincang dengan keluarga. “Doakan ya agar operasi berjalan lancar dan Pak Endi semoga lekas sembuh! Kalau boleh tahu..., darimana dana operasi ini didapat?” Dokter mencetuskan pertanyaan tersebut, karena ia tahu sudah berhari-hari pasien tidak jadi dioperasi sebab keluarga tidak mampu menyediakan dananya.
Istri Kang Endi menjawab, “Ada seorang tetangga kami bernama pak Asep yang membantu, Alhamdulillah dananya bisa didapat, Dok!” “Memangnya, beliau usaha apa? Kok mau membantu dana hingga sebesar itu?” Dibenak dokter, pastilah pak Asep adalah seorang pengusaha sukses.“Dia hanya punya usaha toko kecil di dekat rumah kami. Saya saja sempat bingung saat dia dan istrinya memberikan bantuan sebesar itu!” Istri Kang Endi menambahkan.Di dalam hati, dokter kagum dengan pengorbanan pak Asep dan istrinya. Hatinya mulai tergerak dan berkata, “Seorang pak Asep yang hanya punya toko kecil saja mampu membantu saudaranya. Kamu yang seorang dokter spesialis dan kaya raya, tidak tergerak untuk membantu sesama.” Suara hati itu terus membekas dalam dada pak dokter. Pembicaraan itu usai, dan dokter pun masuk ke ruang operasi.
Alhamdulillah operasi berjalan sukses dan lancar. Ia memakan waktu hingga 4 jam lebih. Semua tumor yang berada pada tulang Kang Endi telah diangkat. Seluruh keluarga termasuk dokter dan perawat yang menangani merasa gembira.
Kang Endi tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Pak Asep masih sering menjenguknya. Suatu hari kebetulan pak dokter sedang memeriksa kondisi Kang Endi dan pak Asep pun sedang berada di sana. Keduanya pun berkenalan. Pak dokter memuji keluasan hati pak Asep. Pak Asep hanya mampu mengembalikan pujian itu kepada Pemiliknya, yaitu Allah Swt. Hingga akhirnya, pak dokter meminta alamat rumah pak Asep secara tiba-tiba.
Beberapa minggu setelah Kang Endi pulang dari rumah sakit. Malam itu, Asep dan Asih tengah berada di rumahnya. Toko belum lagi ditutup, tiba-tiba ada sebuah mobil sedan hitam diparkir di luar pagar rumah. Nampak ada sepasang pria dan wanita turun dari mobil tersebut. Cahaya lampu tak mampu menyorot wajah keduanya yang kini datang mengarah ke rumah pak Asep. Begitu mendekat, tahulah pak Asep bahwa pria yang datang adalah pak dokter yang pernah merawat sahabatnya kemarin.
Gemuruh suasana hati Asep. Ia terlihat kikuk saat menerima kehadiran pak dokter bersama istrinya. Terus terang, seumur hidup, pak Asep belum pernah menerima tamu agung seperti malam ini.
Maka dokter dan istrinya dipersilakan masuk. Setelah disuguhi sajian ala kadarnya, maka mereka berempat terlibat dalam pembicaraan hangat. Tidak lama pembicaraan kedua keluarga itu berlangsung. Hingga saat pak Asep menanyakan maksud kedatangan pak dokter dan istri. Maka pak dokter menjawab bahwa ia datang hanya untuk bersilaturrahmi kepada pak Asep dan istri.
Pak dokter menyatakan bahwa ia terharu dengan pengorbanan pak Asep dan istri yang telah rela membantu tetangganya yang sakit dan memerlukan dana cukup besar. Ia datang bersilaturrahmi ke rumah pak Asep hanya untuk mengetahui kondisi pak Asep dan belajar cara ikhlas membantu orang lain yang sulit ditemukan di bangku kuliah. Semua kalimat yang diucapkan oleh pak dokter dielak oleh pak Asep dengan bahasa yang selalu merendah.Tiba saat pak dokter berujar, “Pak Asep dan ibu...., saya dan istri berniat untuk melakukan haji tahun depan. Saya mohon doa bapak dan ibu agar perjalanan kami dimudahkan Allah Swt... Saya yakin doa orang-orang shaleh seperti bapak dan ibu akan dikabul oleh Allah...” Baik Asep dan Asih menjawab serentak dengan kalimat, “Amien...!”
Pak dokter menambahkan, “Selain itu, biar doa bapak dan ibu semakin dikabul oleh Allah untuk saya dan istri, ada baiknya bila bapak dan ibu berdoanya di tempat-tempat mustajab di kota suci Mekkah dan Madinah...” Kalimat yang diucapkan pak dokter kali ini sama-sama membuat bingung Asep dan Asih sehingga membuat mereka berani menanyakan, “Maksud pak dokter....?” “Ehm..., maksud saya, izinkan saya dan istri mengajak bapak dan ibu Asep untuk berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah akan mengabulkan doa kita semua!”
Kalimat itu berakhir menunggu jawaban. Sementara jawaban yang ditunggu tidak kunjung datang hingga air mata keharuan menetes di pipi Asep dan Asih secara bersamaan. Beberapa menit keharuan meliputi atmosfir ruang tamu sederhana milik Asep dan Asih. Seolah bagai rahmat Tuhan yang turun menyirami ruh para hamba-Nya yang senantiasa mencari keridhaan Tuhan.
Asep dan Asih hanya mampu mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Usai pak dokter pulang, keduanya tersungkur sujud mencium tanah tanda rasa syukur yang mendalam mereka sampaikan kepada Allah Yang Maha Pemurah. Akhirnya, mereka berempat pun menjalankan haji di Baitullah demi mencari keridhaan Allah Azza wa Jalla.
Sungguh, kesabaran panjang yang diakhiri dengan pengorbanan kebaikan, akan berbuah di tangan Allah Swt menjadi balasan yang besar dan anugerah yang tiada terkira.

Karena kita kaum berfikir yang punya hati

Untuk orang-orang yang selalu mengusung kebaikan, Orientasi dalam berfikir mereka  ini bukan saja untuk duniawi, tapi diutamakan ukhrawinya juga, diutamakan pada hal-hal yang menjaga diri sendiri dan umat dalam kebaikan-kebaikan.  Setelah lepas dari pemikiran-pemikiran duniawi yang hanya mementingkan diri sendiri, orientasi berfikir mereka fokus pada hal-hal yang menuju kebaikan. Tapi menuju hal-hal tersebutpun tak akan lepas dari perbedaan cara pandang manusia karena manusia adalah kaum yang berfikir. Akalpun seringkali membuat berbagai golongan terpecah, karena masing-masing punya pola fikir yang berbeda.Tapi pada akhirnya Allah lah yang akan mempersatukan kita, hati lah yang akan berperan sangat penting. Karena ketika hati itu rusak maka akan rusaklah semuanya, termsuk akal kita. Maka sangat penting menjaga tarbiyah dzatiyah kita dan melakukan riayah pada diri sendiri. Karena tentu ketika dihisab nanti, kita dihisab sendiri-sendiri tidak berjama'ah. Meski kita memang harus memilih satu dari pergerakan-pergerakan yang ada.


Melihat dan menanggapi gonjang-ganjing perbedaan cara berfikir pergerakan, dan kemudian adanya aksi saling hasud dan lain sebagainya, hati kita perlu berperan. Jangan lupakan adab! Boleh saja kita berbeda, tapi kita sesama muslim yang memahami adab bersaudara, boleh saja kita berbeda, tapi kita sesama muslim yang mengetahui proses tabayyun, tetap jaga hati-hati kita, karena bagaimanapun tujuan kita sama. Jika memang ada hal-hal yang perlu dibicarakan, terkait cara bergerak, maka sesama muslim perlu memberikan pemahaman yang baik, hingga pada akhirnya tidak saling hasud. Karena boleh jadi, pergerakan lain lebih mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tapi boleh jadi pergerakan sendiri yang lebih mengetahui. Tidak boleh saling merasa benar. Tapi jika memang ada bukti yang kuat, kesalahan itu tidak boleh dipertahankan, sehingga harus ada perbaikan-perbaikan, bukan malah, ketika tahu didalam ada yang salah, ssemua acuh, tak peduli, seolah saling menyalahkan. Karena kita kaum yang terdidik, pembenahan itu perlu. Ketika tahu ada yang salah, maka benahilah.

Saat ini, kita berfikir sama2 untuk kebaikan umat, tapi caranya saja yang berbeda-beda. Alangkah indah bila cara yang berbeda tersebut kita persatukan untuk saling melengkapi, meskipun kalau dipikir-pikir ini suatu hal yang tidak mungkin, karena setiap pergerakan punya kejumudan sendiri dan punya aturan masing-masing. Tapi cobalah tengok kedalam diri kita, saat kita bergabung kedalam jama'ah, jama'ah manapun itu, apakah akan terhindar dari ashabiyah atau sikap merasa diri ini paling benar? Bukankah tujuan kita sama? Lantas kenapa tidak coba saling memahami bahwa setiap pergerakan apapun itu punya cara yang berbeda, selama aqidah kita benar. Setiap pergerakan punya cara yang berbeda dalam menyikapi konflik terutama konflik2 yang terkait dengan degradasi moral,politik,aqidah dll. Disatu sisi kita melihat, "kok ada konflik begini, pergerakan itu adem2 aja", berhusnudzhanlah..siapa tahu saja pergerakan tersebut sedang merancang suatu ide dan kekuatan yang memang tidak heboh, tapi bersifat jangka panjang. Itu tidak salah bukan? Dan pergerakan yang terlihat adem2 saja inipun harus berhusnudzhan, tidak malah menyalahkan "kok kelompok tersebut, heboh banget ya, maksa banget", berhusnudzhanlah karena mereka bergerak karena refleks hati, palagi ketika ada penyesatan-penyesatan, mereka akan keras, karena mungkin saja itu merupakan refleks bara' mereka yang membenci apa yang Allah membenci. Berhusnudzhanlah..selama kita sama-sama bergerak, saling menerima kritik, dan melakukan perbaikan-perbaikan itu penting.Janganlah jadikan media-media itu sebagai sarana hasud yang pada akhirnya membuat umat saling mendengki.

Imam asy-Syahid Hasan Al-Banna berseru," Wahai Ikwah, setiap pejuang muslim itu adalah guru yang memiliki semua sifat yang semestinya ada pada guru; cahaya, hidayah, rahmat, dan kelembutan. Sehingga, pembebasan Islam berarti juga pembebasan demi peradaban, kemajuan, pengajaran, dan bimbingan kepada seluruh umat manusia"
Sekarang kita sudah sangat enak, bisa berdakwah lewat media kapan saja, tidak langsung terjadi propaganda yang ketika menuliskan tentang islam maka kita akan dibunuh dan lain sebagainya. Propaganda yang datang itu tidak lain serangan-serangan pemikiran pada akhirnya, yang berdampak sangat parah ke hati. Semoga kita semua menjadi umat yang bisa saling mencinti saudaranya, menjadi umat yang mengutamakan isi bukan hanya kulitnya. Wallahu A'lam Bis Shawwab


#The Tuff Muslimah#

Memahami perbedaan antar umat beragama islam

Siapa yang menyangkal bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, bangsa yang plural. Bangsa yang terdiri tidak hanya berbagai ras, suku, kepercayaan, agama, bahkan aliran agama. Umat islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini pun tidak terlepas dari perbedaan.
Islam di Indonesia sangatlah unik. Begitu banyak variasi aliran/pemikiran di Indonesia. Perbedaan itu bukanlah suatu yang aneh karena memang dalam sejarah perkembangan islam di dunia, islam memang mengalami banyak perbedaan baik dari segi politik dan pemikiran pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Belajar dari Sejarah
Jika ada umat islam yang gamang dalam memahami perbedaan dalam islam, salah satu faktornya mungkin adalah dia kurang memahami atau bahkan tidak mengikuti perkembangan diskursus perkembangan islam khususnya setelah wafatnya Rasulullah SAW. Islam memang telah dijadikan sebagai agama yang paripurna dan penyempurna agama lain sebagaimana dalam firman Allah:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.”, Al-Maidah (5):3
Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah sedang menjalankan ibadah Hajji Wadda’ (Terakhir). Ibadah haji terkahir yang ditunaikan oleh Rasul karena tidak lama setelah peristiwa tersebut, Rasul mengalami sakit. Delapan puluh satu hari sejak itu, Nabi Muhammad SAW wafat di usianya yang ke 63 tahun.
Pasca wafatnya Rasul umat islam mengalami kegamangan. Umat islam bertanya-tanya, siapakah yang memimpin kita semua (umat islam) setelah Rasul tiada. Kisruh kekosongan kepemimpinan (Vacuum of Power) di tubuh islam juga disebabkan karena pada saat itu umat islam percaya bahwa Rasul tidak pernah menunjuk secara khusus siapa yang akan menjadi penggantinya. Berangkat dari keyakinan inilah kaum Anshar ketika itu menginisiasi musyawarah untuk menentukan khalifah (pemimpin) di Sagifah Bani Saidah (semacam balairung di Kota Madinah).
Pada awalnya, kaum anshar menunjuk Saad bin Ubadah sebagai pemimpin mereka. Namun, setelah beberapa tokoh Muhajirin mengikuti jalannya musyawarah kemudian jalannya sidang sempat mengalami perdebatan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Perdebatan seputar siapakah yang layak menjadi pemimpin umat islam, kaum anshar atau muhajirin?
Untunglah ketika itu Abu Bakar maju kehadapan dan mencoba menjernihkan suasana. Abu Bakar menawarkan solusi bahwa sebaiknya yang memimpin umat islam saat itu ada dua nama yaitu, dua orang tokoh muhajirin: Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah Ibnu Jarroh. Mendengar pidato Abu Bakar tersebut kemudian Sahabat Umar berkata:
“tidak! Tidak mungkin saya diangkat sebagai pemimpin satu kaum sedang kaum itu ada engkau (Abu Bakar)”.
Lalu Umar lanjut berkata,
“Ulurkan tanganmu(Abu Bakar), untuk aku bai’at”, lanjut Umar.
Tak lama setelah Umar berkata seperti itu, seluruh hardirin saat itu setuju dengan usul Umar. Jadilah Abu Bakar saat itu menjadi Khalifah pertama pasca wafatnya Rasulullah.
Napak Tilas Perkembangan Pemikiran Islam
Kisah pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di atas menggambarkan bagaimana umat islam mengalami kegamangan pasca ditinggalkan oleh Rasulullah. Perbedaan sebelumnya dapat diselesaikan dengan mudah selama Rasul masih hidup. Umat islam pada saat itu cukup bertanya ketika ada hal yang tidak mengerti atau mengadu ketika ada perbedaan satu dengan yang lain kepada Rasul. Dengan segala kharisma, wibawa, dan pengetahuannya Rasul dengan mudah mendamaikan perselisihan di antara intra umat islam.
Islam memang satu, namun begitu banyak aliran atau varian dalam berislam. Hal ini dikarenakan memang dikursus tentang islam terus terjadi pasca wafatnya Rasul. Berbagai macam pembaharuan-pembaharuan pemahaman islam terus dilakukan oleh para ulama terdahulu. Nama-nama beken seperti Al-Hasan Al-Bashri (wafat 110 H/728 H), Abu Hanifah-Imam Hanafi (wafat 150 H/768 M), Malik ibn Anas-Imam Malik (wafat 179 H/795 M), Al-Syafi’i-Imam Syafi’i (wafat 204 H/819 M), dan Ibn Hanbal-Imam Hambali (wafat 241 H/855 M) adalah ulama yang mewarnai wajah, corak, rupa, pemikiran islam saat ini.
Belum lagi para Ulama di abad pertengahan seperti Al-Asy’ari (wafat 300 H/913 M), Al-Farabi (wafat 339 H/950 M), Ibnu Sina-Avicenna (wafat 428 H/1038 M), Al-Ghazali (wafat 505 H/1111 M), Ibn Rusyd (wafat 594 H/1198 M), dan Ibn Taymiyah (wafat 728 H/1328 M). Perbedaan pendapat para ulama tersebut dalam memahami islam bukanlah hal yang tabu. Mereka berargumentasi menggunakan hujjah yang kuat, dalil-dali Qur’an dan Hadits.
Perbedaan pendapat bahkan saling “menyerang” pemikiran satu sama lain juga dilakukan di antara mereka. Contohnya adalah bagaimana Al-Ghazali yang berdiri tegap menantang falsafah, khususnya Metafisika dalam beragama yang dikenalkan oleh Ibnu Sina. Tak lama kemudian pemikiran Al-Ghazali pun kemudian ditantang oleh pemikiran yang dilontarkan oleh Ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd mencoba membangkitkan kembali falsafah di kalangan umat islam yang sempat meredup. Walaupun gagal melakukan hal tersebut di tubuh umat islam, pemikiran Ibnu Rusyd sukses mempengaruhi perubahan pemahaman agama (kristen) di Eropa dan membawa Eropa ke era Renaissance.
Itulah beberapa gambaran perbedaan dalam islam baik dalam perbedaan politik (menentukan pemimpin/khalifah) maupun dalam pemahaman agama (diskursus teologi islam). Umat islam di Indonesia seharusnya belajar dari sejarah. Kita jangan lagi mudah dihasut dengan cap-cap pelabelan dia itu Islam A, si Anu islam B. Perbedaan adalah sebuah keniscahyaan, sebuah Sunattullah. Jika Allah menghendaki, sangatlah mudah bagi Allah mejadikan kita menjadi satu tetapi Allah hendak menguji kita dengan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. Maka berhentilah menilai-nilai sesama muslim. Yang harus kita lakukan adalah berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan (fastabiqul khairat). Karena kepada Allah-lah kita semua kembali. (Al-Maidah (5):48).
Konsep Persaudaraan dalam Islam
Konsep persaudaraan dalam islam dikenal dengan istilah Ukhuwah Islamiyah. Perbedaan apapun dalam tubuh umat islam selam kita masih dalam satu dalam aqidah dan iman maka kita sejatinya semua adalah saudara. Bagaimakah konsep persaudaraan sesama muslim dalam ajaran islam. Allah telah memberikan gambaran yang jelas bagaimana kita membangun ukhuwah islamiyah dalam surat Al-Hujurat (49):10-14.
sesungguhnya kaum beriman itu semuanya bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudaramu (yang berselisih). Dan Bertaqwalah kepada Allah, semoga kamu semua dirahmati-Nya.
Wahai sekalian orang beriman!Janganlan suatu kaum menghina kaum yang lain, kalau-kalau mereka (yang dihina) itu lebih baik daripada mereka (yang menghina). Begitu pula, janganlah para wanita (menghina) para mereka (yang lain), kalau-kalau mereka (yang dihina) itu lebih baik daripadamu, dan jangan pula saling memanggil sesamamu dengan panggilan yang tidak baik. Seburuk-buruk nama adalah nama ialah (nama yang mengandung) kejahatan setelah adanya iman. Barangsiapa tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang zalim (jahat).
Wahai sekalian orang beriman!Jauhilah olehmu banyak prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa (jahat). Jangan pula kamu saling mengumpat sebagian kamu terhadap bagian yang lain. Apakah ada seseorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya dalam keadaan mati, sehingga kamu menjadi benci kepadanya?Dan bertaqwalah kepada Allah.
Wahai sekalian umat manusia!sesungguhnya Kami ciptakan kamu sekalian dari pria dan wanita, dan Kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Mahatahu dan Mahateliti.”, Al-Hujurat (49):10-14.
Ayat itu sudah cukup jelas menjadi pedoman bagi kita dalam memaknai dan membangun persaudaraan sesama muslim. Kewajiban kita semua sekarang adalah mari kita amalkan ayat tersebut. Semoga kita semua tergolong orang-orang yang beruntung dan masuk dalam barisan di belakang Nabi Muhammad SAW di padang mahsyar nanti. Insya Allah. Wallahu a’lam.

Pentingnya Belajar Bahasa Arab



لا يخفى علينا ما للغةِ العربية من أهميةٍ عظمى؛ أولأ لكونها لغة القرآن الكريم والسنة المطهرة، وثانيا لكونها جزءًا من ديننا، بل لا يمكنُ أن يقومَ الإسلام إلا بها، ولا يصح أن يقرأَ المسلم القرآنَ إلا بالعربية، وقراءة القرآن ركنٌ من أركانِ الصلاة، التي هي ركن من أركانِ الإسلام. و ثالثا لكونها لغة أهـل الجنة.

واللغة عمومًا - أي لغة كانت - لها ثلاث وظائف، هي:
أنَّ اللغةَ هي الركنُ الأول في عمليةِ التفكير.
وهي وعاءُ المعرفة.
وهي الوسيلةُ الأولى للتواصلِ والتفاهم والتخاطب، وبثِّ المشاعر والأحاسيس.

وهذا القدرُ من أهميةِ اللغة مشتركٌ بين بني الإنسان وبين اللغات كافة في كلِّ مكان وزمان، إلا أنَّ اللغة العربية امتازت عن سائرِ لغات البشر بأنها اللغةُ التي اختارها الله - سبحانه وتعالى - لوحْيه؛ لما تمتازُ به من مميزات.

وسنذكر في هذا البحثِ المختصر أهميةَ اللغة العربية، ويمكن أن نلخصَ أهميتها بالنِّقاط التالية:
أولاً: أن البيان الكامل لا يحصل إلا بها: ولذا لم ينزل القرآنُ إلا باللغةِ العربية؛ قال - تعالى -: ﴿ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ[الشعراء: 195]، فدلَّ ذلك على أنَّ سائر اللغات دونها في البيان.

ولقد أوضح هذا المعنى أبو الحسين أحمد بن فارس المتوفى سنة (395 هـ)، حيث قال: "فلما خَصَّ - جل ثناؤه - اللسانَ العربيَّ بالبيانِ، عُلِمَ أن سائر اللغات قاصرةٌ عنه، وواقعة دونه"[2].

وقد يقول قائل: قد يقعُ البيان بغيرِ اللسان العربي؛ لأنَّ كلَّ مَنْ أفهمَ بكلامِه على شرط لغته، فقد بيَّن؟

فيُقال له: إن كنتَ تريد أنَّ المتكلِّم بغير اللغة العربية قد يُعْرِبُ عن نفسِه حتى يُفْهِمَ السامعَ مرادَه، فهذا أخسُّ مراتب البيان؛ لأنَّ الأبكم قد يدلُّ بإشاراتٍ وحركات له على أكثر مراده، ثم لا يسمَّى متكلمًا، فضلاً عن أن يُسمَّى بَيِّنًا أو بليغًا، وإن أردت أنَّ سائر اللغات تُبِينُ إبانةَ اللغة العربية، فهذا غَلط، وقد بيَّن السيوطي - رحمه الله - في "المزهر"وجهَ الغلط قائلاً: "... لأنَّا لو احتجنا إلى أنْ نعبر عن السيفِ وأوصافه باللغةِ الفارسية، لما أمكننا ذلك إلا باسمٍ واحد؛ ونحن نذكرُ للسيفِ بالعربية صفاتٍ كثيرة، وكذلك الأسد والفرس وغيرهما من الأشياءِ المسميات بالأسماء المترادفة، فأين هذا من ذاك؟! وأين سائرُ اللغات من السَّعةِ ما للغةِ العرب؟! هذا ما لا خفاءَ به على ذي نُهية"[3].

ثانيًا: أن اللغة العربية تُعد مفتاح الأصلين العظيمين؛ الكتاب والسنة:
فهي الوسيلةُ إلى الوصولِ إلى أسرارهما، وفهم دقائقهما، وارتباط اللغة العربية بهذا الكتابِ المُنَزَّل المحفوظ جعلها محفوظةً ما دام محفوظًا، فارتباطُ اللغةِ العربية بالقرآن الكريم كان سببًا في بقائها وانتشارها، حتى قيل: لولا القرآن ما كانت عربية؛ ولهذا السبب عني السَّلفُ بعلومِ اللغة العربية، وحثُّوا على تعلمِها، والنَّهل من عبابها، وإليك بعض أقوالِهم التي تدلُّ على أهميةِ العربية:
من أقوال السلف في أهمية اللغة العربية:
1- يقول عمرُ بن الخطاب - رضي الله عنه -: "تعلَّموا العربيةَ؛ فإنها من دينِكم، وتعلَّموا الفرائضَ؛ فإنها من دينكم"[4].

2- وكتب عمر إلى أبي موسى الأشعري - رضي الله عنهما -: "أمَّا بعد، فتفقهوا في السنةِ، وتفقهوا في العربية، وأَعْرِبُوا القرآنَ فإنه عربي"[5]، وفي توجيهِ عمر هذا أمران:
الأول: الدعوةُ إلى فقهِ العربية.
والثاني: الدعوةُ إلى فقهِ الشَّريعة.

وبيَّن شيخُ الإسلام سببَ قول عمر: "تفقهوا في السنةِ، وتفقهوا في العربية"؛ حيث قال: "لأنَّ الدِّينَ فيه فقهُ أقوال وأعمال، ففقه العربية هو الطريقُ إلى فقه الأقوال، وفقه الشريعة هو الطريقُ إلى فقه الأعمال"[6].

3- وقال عبدالله بن عباس - رضي الله عنهما -: "ما كنتُ أدري ما معنى: ﴿ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ[الأنعام: 14] حتى سمعتُ امرأةً من العربِ تقول: أنا فطرتُه؛ أي: ابتدأته"[7]، وقال: "إذا خَفِيَ عليكم شيءٌ من القرآنِ، فابتغوه في الشِّعرِ؛ فإنَّه ديوانُ العرب"[8].

4- وأنشد المبرِّد:
النَّحْوُ يَبْسُطُ مِنْ لِسَانِ الْأَلْكَنِ
وَالْمَرْءُ تُكْرِمُهُ إِذَا لَمْ يَلْحَنِ
وَإِذَا طَلَبْتَ مِنَ الْعُلُومِ أَجَلَّهَا
فَأَجَلُّهَا عِنْدِي مُقِيمُ الْأَلْسُنِ [9]

وقوله: "فأجلها عندي مقيم الألسن" هذا بالنسبةِ إلى علومِ الآلة، فاللغةُ أهمُّها، وإلا فإنَّ أهمَّ العلوم: علمُ العقيدة وعلم الدِّيانة، وقد رد بعضُ العلماءِ على هذه الأبيات كابن عبدالبر قائلاً:
لَوْ كَانَ ذَا فِقْهٍ لَقَالَ مُبَادِرًا
فَأَهَمُّهَا مِنْهَا مُقِيمُ الْأَدْيُنِ
هَذَا الصَّحِيحُ وَلاَ مَقَالَةَ جَاهِلٍ
فَأَهَمُّهَا مِنْهَا مُقِيمُ الْأَلْسُنِ

يعني: العلم الصحيح هو مقيم الدين، مقيم العبادة، ودليله أنَّ نبي الله - صلَّى الله عليه وسلَّم - بقي عشر سنين بمكة لا يدعو إلا إلى علم العقيدةِ، الذي هو أساسُ كل علم وأصل العلوم، وبقيةُ العلومِ تتفرَّعُ عنه، فعلمُ العقيدة والشريعة هو أهمُّ ما يجب على المسلم أن يتعلَّمه.

قال الشيخ بكر أبو زيد: "والجلالة هنا - يعني في قوله: فأجلُّها - نسبيةٌ إلى علومِ الآلة، والله أعلم"[10].

5- وقال الشعبي: "النحو كالملحِ في الطعام لا يُستغنى عنه"، وروى أبو نعيم في رياضةِ المتعلِّمين عن ابن شبرمة، قال: "زين الرِّجال النحو، وزين النِّساء الشَّحم".

6- وقال شيخُ الإسلام ابن تيمية: "إنَّ الله لما أنزل كتابَه باللسان العربي، وجعل رسولَه مبلغًا عنه الكتاب والحكمة بلسانه العربي، وجعل السَّابقين إلى هذا الدين متكلِّمين به، ولم يكن سبيل إلى ضبط الدِّينِ ومعرفته إلا بضبط هذا اللسان، صارت معرفته من الدِّين، وأقرب إلى إقامةِ شعائر الدين..."[11].

وفي الكلامِ السَّابقِ لشيخ الإسلام ما يدلُّ على أنَّ بين اللغة العربية والعقيدة الإسلامية ارتباطًا وثيقًا، لا يماثله رباطٌ آخر في أي من المجتمعاتِ القديمة والمعاصرة؛ لأنَّ اللغة العربية هي لغةُ الإسلام، ولغة كتابه العزيز، ولغة رسوله محمد - صلَّى الله عليه وسلَّم - ولذا فإن الاهتمامَ والعناية بها إنما هو استكمال لمقوم من مقومات العقيدة الإسلامية، التي نجتمعُ جميعًا على إعزازِها، والدعوة إليها.

وانطلاقًا من هذا المفهوم، فإنَّ تعلم اللغة العربية والاهتمام بها ليس مهنة تعليمية، أو قضية تعليمية فحسب؛ وإنما هو قضية عقدية، ورسالة سامية نعتز بها.

7- ويقول الرازي: "لما كان المرجعُ في معرفة شرعِنا إلى القرآنِ والأخبار، وهما واردان بلغةِ العرب ونحوهم وتصريفهم، كان العلم بشرعنا موقوفًا على العلم بهذه الأمور، وما لا يتمُّ الواجبُ المطلق إلا به - وكان مقدورًا للمكلف - فهو واجب"[12]، وبيَّن الإسنوي في الكوكبِ الدري علةَ هذا الكلام بقوله: "لأنَّ علمَ أصول الفقه إنما هو أدلة الفقه، وأدلةُ الفقه إنما هما الكتابُ والسنة، وهذان المصدران عربيان، فإذا لم يكن الناظرُ فيهما عالمًا باللغةِ العربية وأحوالها، محيطًا بأسرارها وقوانينها، تعذر عليه النَّظرُ السليم فيهما، ومن ثَمَّ تعذَّرَ استنباط الأحكام الشرعية منهما"[13].

9- ويقول الشافعي: "لا أُسأل عن مسألةٍ من مسائل الفقه، إلا أجبت عنها من قواعدِ النحو"[14]، وهذا يدلُّ على تمكنِه - رحمه الله - في العربية، وقال أيضًا: "ما أردت بها - يعني: العربية - إلا الاستعانةَ على الفقه"[15]، وقال: "من تبحَّرَ في النحوِ، اهتدى إلى كلِّ العلوم"،وتُنسبُ هذه المقولةُ أيضًا للكسائي.

10- "واجتمع الكسائي ومحمد بن الحسن الشيباني صاحب الإمام أبي حنيفة، فقال الكسائي: من تبحَّر في علمِ النحو، اهتدى إلى سائر العلوم، فقال له محمد: ما تقولُ فيمن سها في سجودِ السهو، هل يسجد مرة أخرى؟ قال: لا، قال: لِمَ ذا؟ قال: لأنَّ النحاة يقولون: المصغَّر لا يُصغر، قال محمد: فما تقول في تعليقِ العتق بالملك؟ قال: لا يصحُّ، قال: لِمَ؟ قال: لأنَّ السيل لا يسبق المطر"[16].

ومما يدلُّ أيضًا على اهتمام السَّلفِ بالعربية أنَّ الكسائي - رحمه الله - تعلَّم النحوَ وقد كبر سنُّه، وبيَّن العصامي - رحمه الله - في "سمط النجوم العوالي في أنباءِ الأوائل والتوالي" سببَ ذلك؛ حيث قال: "وسببه أنه مشى يومًا حتى أعيا، فجلس وقال: عييتُ، فقيل له: لحنتَ، قال: كيف؟ قيل: إن كنت أردت التَّعبَ، فقل: أعييت، وإن كنت أردت انقطاع الحيلة، فقل: عييت بغيرِ همز، فأنف من قولِهم: لحنت، واشتغل بالنحو حتى مهر وصار إمام وقته، وكان يؤدب الأمين والمأمون، وصارت له اليد العظمى، والوجاهة التامة عند الرشيدِ وولدَيْه، وتوفي محمد بن الحسن والكسائي في يومٍ واحد سنة سبع وثمانين ومائة، ودُفِنا في مكان واحد، فقال الرشيد: ها هنا دفن العلمُ والأدب، وقصة الكسائي مع سيبويه في مسألة: فإذا هو هي، أو إياها، شهيرةٌ لا نطولُ بذكرِها"[17] [18]؛ ولذا قال الشافعي: "من أراد أن يتبحرَ في النحوِ، فهو عيال على الكسائي"[19].

11- والجرمي يقول: "أنا منذ ثلاثين سنة أفتي النَّاسَ في الفقهِ من كتابِ سيبويه"[20]، فلمَّا بلغ المبردَ هذا الكلامُ قال: "لأنَّ أبا عمر الجرمي كان صاحبَ حديث، فلما عرف كتابَ سيبويه تفقَّه في الحديث؛ إذ كان كتاب سيبويه يُتعلَّم منه النَّظرُ والتفسير"[21].

12- وقال محمد بن الحسن: "خلَّف أبي ثلاثين ألف درهم، فأنفقتُ نصفَها على النحوِ بالري، وأنفقتُ الباقي على الفقه"[22]، وقال عنه الشَّافعي: "لو أشاء أن أقول: تنزل القرآن بلغةِ محمد بن الحسن لقلتُ لفصاحتِه، وقد حملت عنه وقر بختي"[23].

13- بل أُثر عن أبي الريحان البيروني قوله: "لأنْ أُشتم بالعربيةِ خير من أُن أمدحَ بالفارسية"[24]، وهذا يدلُّ على حبِّهم للعربية، واعتزازهم بها.

14- والفارابي يبرِّر مدحَه العربية بكونها من كلامِ أهل الجنَّة؛ حيث يقول: "هذا اللسانُ كلامُ أهل الجنة[25]، وهو المنزَّه بين الألسنةِ من كلِّ نقيصة، والمعلَّى من كلِّ خسيسة، والمهذَّب مما يُسْتَهجن أو يُسْتَشْنع"[26].

ثالثًا: أنَّ بالعلم باللغة العربية تحصل إقامةُ الحجة على الناس:
وهذا داخلٌ في عموم قول الله - تعالى -: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ[النساء: 135]، فلا يمكن أن يكونَ الإنسانُ شاهدًا لله إذا لم يكن فاهمًا لما يشهدُ به؛ لأنَّ العلمَ شرطٌ في الشهادة؛ لقول الله - تعالى -:  ﴿ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ[يوسف: 81]، ولقوله - تعالى -: ﴿ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ[الزخرف: 86]، فلا يمكن أن يشهدَ الشَّاهدُ بما لا يعلمه ولا يفهمه، ولا بد أن يكونَ الإنسانُ فاهمًا لما يشهد به؛ حتى تقبلَ شهادتُه على ذلك.

والله - تعالى - جعل هذه الأمَّةَ شاهدةً على الناس؛ كما قال - تعالى -: ﴿ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا[البقرة: 143]، ولا يمكن أن تتمَّ الشهادة على النَّاسِ إذا كنت لا تفهم ما تشهد به، وليس هناك وسيلة للاطلاعِ من خلالها على أحوالِ النَّاس وما كذبوا به أنبياءهم إلا القرآن، والقرآنُ بلسان عربي مبين، فإذا لم تفهم هذا، فلا يمكن أن تكونَ شاهدًا على الناس، فإذا جاء نوحٌ يوم القيامة يخاصمُه قومُه، فقالوا: ما جاءنا من بشيرٍ ولا نذير، فقال: بلى، قد مكثتُ فيكم ألف سنة إلا خمسين عامًا، فيُقال: من يشهدُ لك؟ فيقول: محمدٌ وأمته، فإذا كنتَ لا تفهم الآياتِ التي جاءت في قصةِ نوح، فلا يمكن أن تكونَ من الشهداءِ على هذا؛ لأنَّ الشهادةَ من شرطِها العلم.

رابعًا: أن اعتياد التكلم باللغة العربية يؤثِّر في العقلِ والخلق والدين:
يقول شيخُ الإسلام ابن تيميَّة - رحمه الله تعالى -: "اعلم أنَّ اعتياد اللغةِ يؤثر في العقلِ والخلقِ والدِّينِ تأثيرًا قويًّا بينًا، ويؤثر أيضًا في مشابهةِ صدرِ هذه الأمَّةِ من الصَّحابةِ والتابعين، ومشابهتهم تزيد العقلَ والدينَ والخلقَ"[27].

وقال أيضًا: "معلومٌ أنَّ تعلمَ العربية وتعليمَ العربية فرضٌ على الكفاية، وكان السَّلفُ يؤدِّبون أولادَهم على اللَّحنِ، فنحن مأمورون أمرَ إيجابٍ أو أمرَ استحبابٍ أن نحفظَ القانون العربي، ونُصلح الألسن المائلة عنه، فيحفظ لنا طريقة فهم الكتاب والسنَّة، والاقتداء بالعرب في خطابها، فلو تُرك النَّاسُ على لحنِهم، كان نقصًا وعيبًا"[28].

وقال أبو هلال العسكري: "فعلم العربية على ما تسمعُ من خاص ما يحتاجُ إليه الإنسانُ لجماله في دنياه، وكمال آلته في علومِ دينه"[29]، وقال الشَّافعي: "من نظر في النَّحو، رقَّ طبعُه"[30].

خامسًا: أنَّ اللغةَ العربية والمحافظة عليها من الدين، وهي خصيصة عظيمة لهذه الأمة:
قال عمر بن الخطاب - رضي الله عنه -: "تعلَّموا العربيةَ؛ فإنَّها من دينِكم"[31]، وقال شيخُ الإسلام ابن تيمية: "فإنَّ نفسَ اللغة العربية من الدِّين، ومعرفتها فرضٌ واجب؛ فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهمِ اللغة العربية، وما لا يتمُّ الواجب إلا به فهو واجب، ثم منها ما هو واجبٌ على الأعيان، ومنها ما هو واجبٌ على الكفاية"[32].

ويقول السيوطي׃ "ولا شكَّ أنَّ علم اللغة من الدين؛ لأنه من الفروضِ الكفايات، وبه تُعرفُ معاني ألفاظ القرآن والسنة"[33].

وقال ابنُ فارس في "الصاحبي في فقهِ اللغةوسنن العرب في كلامها" "فلذلك قلنا: إنّ علم اللغة كالواجب عَلَى أهل العلم، لئلاَّ يحيدوا فِي تأليفهم، أَوْ فتياهم عن سَنن الاستواء، وكذلك الحاجة إِلَى علم العربية فإن الإعراب هو الفارق بَيْنَ المعاني؛ ألا ترى أن القائل إذا قال: "ما أحسن زيد" لَمْ يفرّق بَيْنَ التعجب والاستفهام والذمّ إِلاَّ بالأعراب؛ وكذلك إِذَا قال: "ضرب أخوك أخانا" و"وَجْهُك وجهُ حُرّ" و"وجهُك وجهٌ حرٌ" وَمَا أشْبَه ذَلِكَ من الكلام المشْتَبه"[34].

سادسًا: أنَّ اللغة العربية مصدرُ عزٍّ للأمة:
لا بد من النظرِ إلى اللغة العربية على أنها لغةُ القرآن الكريم والسنة المطهرة، ولغةُ التشريع الإسلامي؛ بحيث يكون الاعتزازُ بها اعتزازًا بالإسلام، وتراثه الحضاري العظيم، فهي عنصرٌ أساسي من مقوماتِ الأمة الإسلامية والشخصية الإسلامية، والنظر إليها على أنها وعاء للمعرفةِ والثقافة بكلِّ جوانبها، ولا تكون مجردَ مادةٍ مستقلة بذاتها للدراسة؛ لأنَّ الأمَّةَ التي تهمل لغتَها أمةٌ تحتقر نفسَها، وتفرضُ على نفسِها التبعية الثقافية.

يقول مصطفى صادق الرافعي - رحمه الله - مبينًا هذا: "ما ذلَّت لغةُ شعبٍ إلاَّ ذلَّ، ولا انحطَّت إلاَّ كان أمرُه في ذَهابٍ وإدبارٍ، ومن هذا يفرضُ الأجنبيُّ المستعمر لغتَه فرضًا على الأمَّةِ المستعمَرة، ويركبهم بها، ويُشعرهم عظمتَه فيها، ويستلحِقهم من ناحيتِها، فيحكم عليهم أحكامًا ثلاثةً في عملٍ واحدٍ؛ أمَّا الأول: فحَبْس لغتهم في لغته سجنًا مؤبَّدًا، وأمَّا الثاني: فالحكمُ على ماضيهم بالقتلِ محوًا ونسيانًا، وأمَّا الثالث: فتقييد مستقبلهم في الأغلالِ التي يصنعها، فأمرُهم من بعدها لأمره تَبَعٌ"[35].

وعلى هذا؛ ينبغي لمن يعرفُ العربيةَ ألا يتكلَّم بغيرِها، وكره الشافعي ذلك، وينبغي لمن دخل الإسلامَ من الأعاجمِ أن يتعلَّمَ العربية.

سابعًا: أن الجهل باللغة من أسباب الزيغ:
فالضعف في علومِ العربية سببُ ضلال كثير من المتفقِّهة؛ قال ابنُ جني: "إنَّ أكثر مَن ضلَّ من أهل الشريعة عن القصدِ فيها، وحاد عن الطريقةِ المثلى إليها، فإنما استهواه واستخفَّ حلمَه ضعفُه في هذه اللغةِ الكريمة الشريفة التي خُوطِب الكافَّةُ بها"[36].

وقال عمرو بن العلاء لعمرو بن عبيد لما ناظره في مسألةِ خلود أهل الكبائر في النَّار، احتجَّ ابنُ عبيد أنَّ هذا وعْد الله، والله لا يخلفُ وعْدَه - يشير إلى ما في القرآنِ من الوعيد على بعضِ الكبائر بالنَّار والخلود فيها - فقال ابنُ العلاء: من العُجْمة أُتيتَ، هذا وعيدٌ لا وعد؛ قال الشاعر:
وَإِنِّي وَإِنْ أَوْعَدْتُهُ أَوْ وَعَدْتُهُ
لَمُخْلِفُ إِيعَادِي وَمُنْجِزُ مَوْعِدِي [37][38]

ومن أمثلة التفاسير الخاطئة المبنية على الجهل بالعربية قول من زَعَم أنه يجوزُ للرجلِ نكاح تسع حرائر، مستدلاًّ بقوله - تعالى -: ﴿ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ[النساء: 3]، فالمجموع تسع نسوة؛ قال الشاطبي: "ولم يشعر بمعنى فُعال ومفعل، وأنَّ معنى الآية: فانكحوا إن شئتم اثنتين اثنتين، أو ثلاثًا ثلاثًا، أو أربعًا أربعًا"[39].

ومن ذلك قول من قال: إنَّ المحرَّمَ من الخنزير إنما هو اللَّحم، وأمَّا الشَّحمُ فحلال؛ لأنَّ القرآن إنما حرَّمَ اللحم دون الشحم، ولو عرف أنَّ اللحم يُطلقُ على الشحمِ، بخلاف الشحم فلا يطلقُ على اللحمِ، لَمَا قال ما قال.

ومن ذلك قول من قال في حديث: ((لا تسبُّوا الدَّهر؛ فإنَّ الله هو الدهر، يقلِّبُ الليلَ والنهار))[40]؛ بأنَّ فيه مذهب الدهرية، وهذا جهل، فإنَّ المعنى: لا تسبوا الدَّهرَ إذا أصابتكم مصائب، ولا تنسبوها إليه، فإنَّ الله هو الذي أصابكم، فإنكم إذا سببتم الدهرَ، وقع السبُّ على الفاعل لا على الدهر.

قال الشاطبي - رحمه الله - بعد أن ذكرَ الأمثلة السابقة: "فقد ظهر بهذه الأمثلةِ كيف يقعُ الخطأ في العربيةِ في كلام الله - سبحانه - وسنة نبيه - صلَّى الله عليه وسلَّم - وأنَّ ذلك يؤدِّي إلى تحريفِ الكلم عن مواضعِه، والصحابة - رضوان الله عليهم - براءٌ من ذلك؛ لأنهم عربٌ لم يحتاجوا في فهمِ كلامِ الله - تعالى - إلى أدواتٍ ولا تعلم، ثم من جاء بعدهم ممن هو ليس بعربي اللسان تكلَّفَ ذلك حتى علمه"[41].

ولذا نجد أنَّ السلف ذموا اللحن في اللغة، وجعلوه قبيحًا، وخاصة لطالب العلم:
فقد كثرت أقوالُ العلماء في ذمِّ اللحن؛ فعن أيوب السختياني - رحمه الله - أنه كان إذا لحن، قال: "أستغفرُ الله"[42]، وقال الأصمعي - رحمه الله -: "إنَّ أخوفَ ما أخاف على طالبِ العلم إذا لم يعرف النحوَ أن يدخلَ في جملة قوله - صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((من كذب عليَّ متعمدًا، فليتبوأ مقعدَه من النَّار))؛ لأنَّه لم يكن يلحن، فمهما رويت عنه ولحنت فيه، كذبت عليه"[43]، وروى الخطيبُ البغدادي أنَّ عليًّا وابن عباس وابن عمر - رضي الله عنهم - كانوا يضربون أبناءهم على اللَّحن.

ونُقل عن الرحبي أنه قال: سمعتُ بعضَ أصحابنا يقول: إذا كتب لحَّان فكتب عن اللحان لحَّانٌ آخر، فكتب عن اللحانِ لحَّان آخر، صار الحديثُ بالفارسية"[44].

وقد سمع عمر - رضي الله عنه - رجلاً يتكلَّم في الطوافِ بالفارسية، فأخذ بِعَضُدِهِ وقال: "ابتغ إلى العربية سبيلاً"[45]، وقال عطاء: "رأى عمر رجلين وهما يَتَرَاطَنَان في الطوافِ، فعلاهما بالدِّرَّةِ، وقال: لا أُمَّ لكما، ابتغيا إلى العربية سبيلاً"[46].

وضرب علي - رضي الله عنه - الحسنَ والحسين على اللَّحن[47]، وكان ابن عمر - رضي الله عنهما - يضربُ أولادَه على اللَّحن ولا يضربهم على الخطأ[48].

وقال ابنُ فارس: "لذلك قلنا: إنَّ علم اللغة كالواجبِ على أهل العلم؛ لئلا يحيدوا في تأليفِهم أو فتياهم عن سَنن الاستواء"[49].

وقال شيخُ الإسلامِ ابن تيمية - رحمه الله -: "ومن لم يعرفْ لغةَ الصحابةِ التي كانوا يتخاطبون بها ويخاطبهم بها النبي - صلَّى الله عليه وسلَّم - وعادتهم في الكلام، وإلا حرف الكلم عن مواضِعه؛ فإن كثيرًا من الناس ينشأ على اصطلاحِ قومه وعادتهم في الألفاظ، ثم يجد تلك الألفاظَ في كلامِ اللهِ أو رسوله أو الصحابة، فيظن أنَّ مرادَ الله أو رسوله أو الصحابة بتلك الألفاظ ما يريدُه بذلك أهلُ عادته واصطلاحه، ويكون مرادُ الله ورسوله والصحابة خلاف ذلك‏"[50].

وقد تحسَّر ابنُ فارس - رحمه الله - على أهلِ وقته من غفلتِهم عن العلوم العربية، وانشغالِهم عنها؛ فقال - رحمه الله -: "وقد كان النَّاسُ قديمًا يجتنبون اللَّحنَ فيما يكتبونه أو يقرؤونه اجتنابهم بعض الذُّنوب، فأمَّا الآن فقد تجوَّزوا حتى إنَّ المحدثَ يحدِّثُ فيلحن، والفقيه يؤلف فيلحن، فإذا نُبِّها قالا: ما ندري ما الإعراب، وإنما نحن محدِّثون وفقهاء، فهما يسران بما يساء به اللبيب"[51].

وقال العلامةُ الشيخ بكر أبو زيد - رحمه الله - في كتابِه القيِّم "حلية طالب العلم": "احذر اللَّحن؛ ابتعد عن اللحنِ في اللفظ والكتب؛ فإنَّ عدم اللحنِ جلالةٌ وصفاء ذوق، ووقوف على ملاح المعاني لسلامةِ المباني".

وما أحسنَ ما قاله الشَّاعرُ عبدالرحمن العشماوي في وصفِ مَن يلحن في لفظِه:
يُلْقِي عَلَى الْمَرْفُوعِ صَخْرَةَ جَهْلِهِ
فَيَصِيرُ تَحْتَ لِسَانِهِ مَجْرُورَا
وَيَنَالُ مِنْ لُغَةِ الْكِتَابِ تَذَمُّرًا
مِنْهَا وَيَكْتُبُ فِي الْفَرَاغِ سُطُورَا
وَرَأَيْتُ مَبْهُورًا بِذَلِكَ كُلِّهِ
فَرَحِمْتُ ذَاكَ الْجَاهِلَ الْمَغْرُورَا
وَعَلِمْتُ أَنَّ الْعَقْلَ فِينَا قِسْمَةٌ
وَاللهُ قَدَّرَ أَمْرَنَا تَقْدِيرَا

وسنبين بشيء من التفصيل أهمية اللغة العربية لكل من المفسر والمحدث والفقيه:
أهمية اللغة العربية للمفسِّر والمحدث:
قال الشاطبي - رحمه الله -: "وعلى النَّاظرِ في الشريعةِ والمتكلم فيها أصولاً وفروعًا أمران؛ أحدهما: ألا يتكلَّمَ في شيء من ذلك حتى يكون عربيًّا أو كالعربي؛ في كونِه عارفًا باللِّسان العربي، بالغًا فيه مبلغ العرب؛ قال الشَّافعي - رحمه الله -: فمن جهل هذا من لسانها - وبلسانها نزل الكتاب، وجاءت السنة - فتكلَّفَ القول في علمِها، تكلف ما يجهل بعضه، ومن تكلف ما جهل وما لم تثبتْ معرفتُه، كانت موافقته للصواب - إن وافقه - غيرَ محمودة، والله أعلم، وكان بخطئه غيرَ معذورٍ؛ إذ نطق فيما لا يحيطُ علمه بالفرقِ بين الخطأ والصواب فيها"[52].

وأبان عن هذه الأهميةِ أهلُ اللغة أنفسهم؛ يقول الزمخشري: "وذلك أنهم لا يجدون علمًا من العلومِ الإسلامية فقهها وكلامها، وعلمي تفسيرها وأخبارها، إلا وافتقاره إلى العربية بيِّن لا يُدفع، ومكشوفٌ لا يتقنَّع، ويَرَوْن الكلامَ في معظم أبواب أصول الفقه ومسائلها مبنيًّا على علمِ الإعراب"[53].

وما ذكره الزمخشري صحيحٌ؛ وذلك لتوقُّفِ معرفة دلالات الأدلة اللفظية من الكتابِ والسنة، وأقوالِ أهلِ العقد والحل من الأمة على معرفة موضوعاتها لغة من جهة: الحقيقة والمجاز، والعموم والخصوص، والإطلاق والتقييد، والحذف والإضمار، والمنطوق والمفهوم، والاقتضاء والإشارة، والتنبيه والإيماء، وغير ذلك مما لا يعرفُ في غيرِ علم العربية[54].

وقال الحسن البصري - رحمه الله -: "أهلكتهم العجمةُ؛ يتأولونه على غيرِ تأويله"[55].

وقال شيخُ الإسلام ابن تيميَّة - رحمه الله -: "لا بُدَّ في تفسيرِ القرآن والحديث من أن يُعرَف ما يدلُّ على مرادِ الله ورسوله من الألفاظ، وكيف يُفهَم كلامُه؟ فمعرفةُ العربيةِ التي خُوطبنا بها ممَّا يُعين على أن نفقه مرادَ اللهِ ورسولِه بكلامِه، وكذلك معرفة دلالة الألفاظِ على المعاني؛ فإنَّ عامَّة ضلالِ أهل البدع كان بهذا السبب، فإنَّهم صاروا يحملون كلامَ اللهِ ورسولِه على ما يَدَّعون أنَّه دالٌّ عليه، ولا يكون الأمر كذلك"[56].

وقال أبو حيان في معرضِ ثنائه على سيبويه - رحمه الله -: "فجدير لمن تاقت نفسُه إلى علمِ التفسير، وترقَّتْ إلى التحريرِ والتحبير، أن يعتكفَ على كتابِ سيبويه؛ فهو في هذا الفنِّ المعوَّل عليه، والمستند في حلِّ المشكلات إليه"[57].

وقال الزركشي: "واعلم أنَّه ليس لغيرِ العالم بحقائقِ اللغة وموضوعاتها تفسير شيء من كلامِ الله، ولا يكفي في حقِّه تعلم اليسير منها؛ فقد يكونُ اللَّفظُ مشتركًا وهو يعلم أحدَ المعنيين والمراد المعنى الآخر"[58].

ولهذا السبب يقول مالك - رحمه الله -: "لا أُوتَى برجلٍ غير عالم بلغةِ العرب يفسر كتاب الله إلا جعلته نكالاً"[59]، ولهذا أيضًا نجد التفاسيرَ مشحونةً بالرِّواياتِ عن سيبويه والأخفش والكسائي والفراء وغيرهم، فالاستظهارُ لبعضِ معاني القرآن الكريم وأسرارِه نابعٌ من الاستعانةِ بأقاويلهم، والتشبث بأهدابِ فسْرهم وتأويلهم؛ كما قال الزمخشري في "المفصَّل"[60].

وروى أبو عبيد في فضائلِ القرآن عن أبي بكر الصديق - رضي الله عنه - قال: "لأن أعرب آيةً أحب إليَّ من أن أحفظَ آية"[61]؛ وذلك لأنَّ فهمَ الإعراب يعينُ على فهمِ المعنى، والقرآن نزل للتدبرِ والعمل.

ومما يجب فهمه بالنسبة للمفسر لكتاب الله ما يلي:
1- معرفةُ أوجهِ اللغة؛ وهو أمرٌ ضروري في اختيارِ ما يناسب النص، وقَصْر المعنى على الوجهِ المراد، ومن ذلك على سبيل المثال قوله - تعالى -: ﴿ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى[الضحى: 7]، فإنَّ لفظة: (الضلال) تقعُ على معانٍ كثيرة، فتوهَّم البَعْضُ أنَّه أراد بالضَّلالِ الذي هو ضد الهدى، وزعموا أنَّ الرسول - صلَّى الله عليه وسلَّم - كان على مذهبِ قومه أربعين سنة، وهذا خطأ فاحش؛ فقد طهَّرَه الله تعالى لنبوتِه، وارتضاه لرسالته، ومن سيرته  - صلَّى الله عليه وسلَّم - ما يرد على مزاعمِهم؛ إذ سُمِّي في الجاهليةِ الأمين، وكانوا يرتضونه حكمًا لهم وعليهم، والله - سبحانه وتعالى - إنما أراد بالضَّلالِ الذي هو الغفلة، كما قال في مواضعَ أخرى: ﴿ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى[طه: 52]؛ أي: لا يغفل[62] - سبحانه وتعالى.

وقال ابن عباس - رضي الله عنهما -: "هو ضلاله وهو في صغرِه في شعابِ مكة، ثم ردَّهُ الله إلى جدِّه عبد المطلب، وقيل: ضلاله من حليمةَ السعدية مرضعته، وقيل: ضلَّ في طريقِ الشَّامِ حين خرج به عمه أبو طالب"[63].

2- معرفة الصِّيغ وما تدل عليه من معنى؛ لئلا يؤدِّي ذلك إلى تفسيرِ القرآن الكريم بما لا يليق، أو فهم المعنى غير المراد؛ ومن ذلك على سبيل المثال: ﴿ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ[فصلت: 46]، وغير ذلك من الآياتِ التي ورد فيها نفي الظلم عن الله - سبحانه وتعالى - بصيغة (فعَّال)، ففي هذه الآيةِ وما أشبهها وردت لفظةُ (ظلاَّم) بصيغةِ المبالغة، ومعلومٌ أنَّ نفي المبالغة لا يستلزم نفي الفعل من أصلِه؛ مثال ذلك قولك: زيد ليس بنحَّارٍ للإبل، لا ينفي إلا مبالغته في النَّحر، ولا ينفي أنه ربما نَحَر بعضَ الإبل، ومعلوم أنَّ المرادَ بنفي المبالغة في الآياتِ هو نفي الظلم من أصلِه عن الله - سبحانه وتعالى.

وأُجيب عن ذلك بناءً على فهمِ اللغة العربية؛ وهو أنَّ المراد نفي نسبة الظلمِ إليه - سبحانه - لأنَّ صيغة (فعَّال) قد جاءت في اللغةِ العربية مرادًا بها النسبة فأغنت عن ياء النَّسب، ومثاله في لغةِ العرب قول امرئ القيس:
وَلَيْسَ بِذِي رُمْحٍ فَيَطْعُنَنِي بِهِ
وَلَيْسَ بِذِي سَيْفٍ وَلَيْسَ بِنَبَّالِ[64]

أي: ليس بذي نَبْلٍ، وعلى هذا أجمعَ المحقِّقون من المفسِّرين واللغويين[65].

3- معرفةُ الأوجه الإعرابية: فمما يجبُ معرفتُه على المفسر معرفة أوجه الإعراب؛ لأنَّ المعنى يتغيرُ بتغير الإعراب، ويختلف باختلافِه، وعلى سبيلِ المثال لو أنَّ قارئًا قرأ: ﴿ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ[الإخلاص: 4] برفع (كفو) ونصب (أحد) لكان قد أثبتَ كفوًا لله - تعالى عمَّا يقولون علوًّا كبيرًا - بل إنَّ الحركةَ لها دورٌ في المعنى ولو لم تكن إعرابًا، ويدلُّ على ذلك لزوم كسر الخاء في قوله - تعالى -: ﴿ هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ[الحديد: 3]، وكسر الواو في قوله - تعالى -: ﴿ هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ[الحشر: 24]، فإنَّ فتحَها يؤدِّي إلى الكفر.

4- ومما يحتاجُه طالبُ علم التفسير المعرفة بلغات العرب؛ إذ من المعلومِ أنَّ لكلِّ قبيلة لغتها، وأفصح اللغاتِ لغة قريش، إلا أنَّ هناك بعضَ الكلمات في القرآن جاءت على غيرِ لغة قريش، فقد أشكل على عمر بن الخطاب - رضي الله عنه - معنى قوله - تعالى -: ﴿ أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَى تَخَوُّفٍ[النحل: 47]، فقام في المسجدِ فسأل عنها، فقامَ إليه رجلٌ من هذيل، فقال معناها: "على تنقصٍ"؛ أي: شيئًا فشيئًا، ودليلُه قولُ شاعرنا الهذلي يصفُ سرعةَ ناقتِه:
تَخَوَّفَ الرَّحْلُ مِنْهَا تَامِكًا قَرِدًا
كَمَا تَخَوَّفَ عُودَ النَّبْعَةِ السَّفَنُ [66]

أي: أخذ الرحل يحتكُّ بسنامِ النَّاقة من سرعتها، حتى كاد ينقص كما يبري البحَّار عود السفينة بالسِّكين لينقصَ منها.

أهمية العربية في فهم الحديث:
معرفةُ العربية شرطٌ في المحدِّث؛ قال ابنُ الصلاح: "وحق على طالبِ الحديث أن يتعلَّمَ من النَّحوِ واللغة ما يتخلَّصُ به من شين اللحن والتحريف ومعرتهما"[67]، وروى الخطيب عن شعبة قال: "من طلب الحديثَ ولم يبصر العربيةَ كمثل رجلٍ عليه برنس وليس له رأس"[68]، وروى أيضًا عن حماد بن سلمة قال: "مثل الذي يطلبُ الحديثَ ولا يعرف النَّحوَ مثل الحمارِ عليه مخلاة ولا شعيرَ فيها"[69].

وقد روى الخليلي في "الإرشاد" عن العباسِ بن المغيرة عن أبيه قال: جاء عبد العزيز الدراوردي في جماعةٍ إلى أبي ليعرضوا عليه كتابًا، فقرأ لهم الدراوردي، وكان رديء اللسانِ يلحن، فقال أبي: "ويحك يا دراوردي أنت كنتَ إلى إصلاح لسانك قبل النظرِ في هذا الشأن أحوج منك إلى غير ذلك"[70].

ويقول الحافظُ أبو الحجَّاج يوسف بن الزكي المِزِّي (ت742هـ) في مقدمِة كتابه "تهذيب الكمال في أسماء الرجال": "ينبغي للناظرِ في كتابنا هذا أن يكونَ قد حصَّل طرفًا صالحًا من علمِ العربية؛ نحوها ولغتها وتصريفها، ومن علم الأصول والفروع، ومن علم الحديث والتواريخ وأيام الناس".

أهمية اللغة العربية للفقيه:
جَعَل علماءُ أصولِ الفقه من شروط المجتهد أن يكون عالمًا بأسرارِ العربية، وبخاصة علم النحو؛ لأنَّ الشريعةَ عربية ولا سبيل إلى فهمِها إلا بفهمِ كلام العرب، وما لا يتمُّ الواجبُ إلا به فهو واجب، كما ذكر ذلك صاحبُ "المحصولِ في أصول الفقه" حيث يقول: "مسألة في شرائط المجتهد: أعلم أن شرط الاجتهاد أن يكون المكلف بحيث يمكنه الاستدلال بالدلائل الشرعية على الأحكام، وهذه المكنة مشروطة بأمور: أحدها: أن يكون عارفاً بمقتضى اللفظ ومعناه؛ لأنه لو لم يكن كذلك لم يفهم منه شيئاً؛ ولما كان اللفظ قد يفيد معناه لغة وعرفاً وشرعاً وجب أن يعرف اللغة والألفاظ العرفية والشرعية"[71].

وقد شرطه الجماهيرُ من الأصوليين؛ كالشافعي والغزالي والجويني والآمدي والقرافي والفتوحي والطوفي والشوكاني وغيرهم.

بل نجدُ ابنَ حزم - رحمه الله - يصرحُ بوجوب تعلم النحو للمفتي؛ حتى لا يقعَ في الخطأ، وإضلال النَّاسِ جراء الفهمِ السَّقيمِ للنصوص.

تنبيه: ذكر بعضُ العلماء أنَّ معرفةَ متون مختصرة في علومِ العربية تكفي للمجتهد، وهذا القولُ غير صحيح، بل لا بد من التضلع في اللغةِ لمن أراد الاجتهاد؛ يقول الشوكاني - رحمه الله -: "ومن جعل المقدارَ المحتاج إليه في هذه الفنونِ هو معرفة مختصر من مختصراتِها، أو كتاب متوسط من المؤلفاتِ الموضوعة، فيها فقد أَبْعَد، بل الاستكثار من الممارسةِ لها، والتوسع في الاطلاعِ على مطولاتِها مما يزيدُ المجتهد قوةً في البحث، وبصرًا في الاستخراج، وبصيرة في حصولِ مطلوبه، والحاصلُ أنه لا بد أن تثبتَ له الملكة القوية في هذه العلوم، وإنما تثبت هذه الملكة بطولِ الممارسة، وكثرة الملازمة لشيوخِ هذه الفنون"[72].

وهذا هو ما يفهم من كلامِ الصَّحابةِ والسلف وأقوال اللغويين؛ أنه ليس المقصود من تعلم اللغة العربية الاقتصار فقط على القواعدِ الأساسية التي تتوقَّفُ وظيفتها على معرفةِ ضوابط الصحة والخطأ في كلام العرب؛ وإنما المقصودُ من تعلمِ اللغة العربية لدارس الكتاب والسنة والمتأمل فيهما هو فهم أسرارها، والبحث عن كلِّ ما يفيدُ في استنطاق النَّصِّ، ومعرفة ما يؤديه التركيبُ القرآني على وجه الخصوص؛ باعتباره أعلى ما في العربيةِ من بيان، وقد نبَّه على هذه الخاصيةِ الزَّجاجيُّ في كتابه "الإيضاح في علل النحو"؛ حيث يقول: "فإن قِيل: فما الفائدةُ في تعلم النحو؟ فالجوابُ في ذلك أن يُقال: الفائدة فيه للوصولِ إلى التكلم بكلامِ العرب على الحقيقة صوابًا غير مبدل ولا مغير، وتقويم كتاب الله - عزَّ وجلَّ - الذي هو أصل الدِّينِ والدنيا والمعتمد، ومعرفة أخبار النبي - صلَّى الله عليه وسلَّم - وإقامة معانيها على الحقيقة؛ لأنَّه لا تفهم معانيها على صحةٍ إلا بتوفيتِها حقوقها من الإعراب"[73].

وليعلم أنه بمقدارِ التضلُّعِ من علومِ العربية مع العلوم الأخرى المشروطة، يكون قرب المجتهد من الفهمِ الصحيح للنصوص؛ قال الإمامُ الشافعي - رحمه الله -: "وما ازداد - أي: المتفقه - من العلمِ باللسان الذي جعله الله لسان من خَتَم به نبوته، وأنزل به آخرَ كتبِه، كان خيرًا له"[74].

وقال الشاطبي - رحمه الله -: "وإذا فرضنا مبتدئًا في فهمِ العربية فهو مبتدئ في فهم الشَّريعة، أو متوسطًا فهو متوسطٌ في فهم الشريعة، والمتوسط لم يبلغْ درجةَ النهاية، فإذا انتهى إلى الغايةِ في العربية كان كذلك في الشَّريعة، فكان فهمه فيها حجة، كما كان فهمُ الصحابة وغيرهم من الفصحاءِ الذين فهموا القرآن حجةً، فمن لم يبلغ شأوهم، فقد نقصه من فهمِ الشريعة بمقدار التقصير عنهم، وكل من قصر فهمه لم يكن حجة، ولا كان قوله مقبولاً"[75].

ولكن العلماء يفرِّقون بين طبيعةِ العمل الاجتهادي؛ فمنه ما يتعلَّقُ باستنباطِ المصالحِ والمفاسد مجردًا من اقتضاءِ النُّصوص لها، وإنما العلم بمقاصدِ الشريعة، فهذا العلمُ لا يلزمُ له معرفة واسعة في العلومِ العربية، وإنما يلزمُ العلم بمعرفةِ مقاصد الشريعة، وإن تعلق الاستنباط بالنصوص الشرعية، فلا بد من اشتراطِ العلم بالعربية[76].

فالعربية إذًا وسيلةٌ من وسائلِ الاهتداء إلى بعضِ الأحكام الفقهية من نصوصِ الشريعة، وقد نبَّه العلماءُ الأوائل على هذه الأهميةِ في استنباط الأحكامِ الشرعية، ومن هؤلاء على سبيل المثال:
1- القرافي (ت 682 هـ) في كتابِه "الاستغناء في أحكام الاستثناء".
2- الإسنوي (ت 772 هـ) في كتابِه "الكوكب الدري".
3- أبو بكر محمد بن عبدالله؛ المعروف بابنِ العربي، صاحب كتاب "أحكام القرآن الكريم".
4- القرطبي في تفسيره؛ حيث إنه كثيرًا ما يعبِّرُ في الردِّ على بعض الأقوال بقوله: "وهذا كلُّه جَهْلٌ باللسانِ والسنة ومخالفة لإجماع الأمة"[77].

ولا أدلَّ على ذلك من جَعْل النحو أحد ثلاثة مصادر منها استمداد أصول الفقه، وهذه المصادر: علم الكلام، وعلم العربية، والأحكام الشرعية، بل إنَّ تحديدَ الدلالةِ اللفظية قد يتوقَّفُ عليها تقرير الحكم الشرعي؛ لأنَّ الأسلوبَ العربي في لغةِ القرآن الكريم يتميَّزُ بالتصرفِ في فنون القول، وتكثر فيه الألفاظُ التي تمثل أكثر من معنى، ومن ذلك على سبيلِ المثال:
1- لفظة (اللَّمس) الواردة في قولِه - تعالى -: ﴿ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ[النساء: 43]، فمن الفقهاءِ من حدَّدَ معنى (اللمس) بالاتصالِ بالمرأة، ومنهم من حدَّده بمعنى المسِّ فقط.

2- ومن ذلك أيضًا ما ورد في حديثِ الرسول - صلَّى الله عليه وسلَّم - فقد قال رسول الله - صلَّى الله عليه وسلَّم -: ((أسرعكنَّ لحاقًا بي أطولكنَّ يدًا))[78]، قاله لنسائه، فحسبْنه من الطولِ الذي هو ضد القصر، فظنت سَوْدة إحدى زوجاته أنَّها المرادة، فلما ماتت زينب - رضي الله عنها - قبلها، علمْنَ حينئذٍ أنَّ المراد بالطولِ هو الفضل والكرم، وكانت زينبُ أكثرهنَّ صدقة، وهذا يوافق كلامَ العرب؛ فهم يقولون: فلان أطول يدًا، في حالةِ الكرم[79].

وقد فطنَ بعضُ العلماء إلى أهمية تلك المعرفة؛ ومنهم الراغب الأصفهاني (ت552 هـ) في كتابه "المفردات في غريب القرآن"؛ حيث تناولَ في هذا الكتابِ التحديدَ الدقيق بين دلالاتِ الألفاظ في القرآن الكريم، وكذلك فعل الزمخشري في كتابه "أساس البلاغة"؛ حيث وضَّحَ الاستعمالاتِ المختلفةَ للفظ، وما يضيفه الاستعمالُ من دلالةٍ حقيقية أو مجازية، كما فطن إلى ذلك أيضًا الإمامُ الشافعي - رحمه الله - في كتابه "الرسالة"[80]، وذكر ابن السيد البطليوسي في كتابه "التنبيه على الأسبابِ التي أوجبت الاختلاف بين المسلمين"[81] أنَّ الإعرابَ له تأثير بيِّنٌ في الأحكامِ الفقهية وتوجيهها؛ فالمعاني تختلفُ باختلافِ وجوه الإعراب، ويختلف الحكم تبعًا لذلك؛ وعلى سبيل المثال:
لو قال شخصٌ: له عندي مائةٌ غيرُ درهم، برفع (غير) لكان مقرًّا بالمائةِ كاملة؛ لأنَّ غير هنا صفة للمائة، وصفتها لا تنقص شيئًا منها[82]، ولو قال: له عندي مائةٌ غيرَ درهم، بنصب (غير) لكان مقرًّا بتسعةٍ وتسعين درهمًا؛ لأنه استثناء، والاستثناء إخراجُ ما بعد حرف الاستثناء من أن يتناولَ ما قبله.

ولو قال لزوجتِه: أنت طالق إن دَخَلْتِ الدار، بكسر همزة (إن)، لم تطلق حتى تدخلَ الدَّار؛ لأنَّ (إن) للشرط، ولو قال: أنت طالق أن دَخَلْتِ الدار، بفتح همزة (أن)، وقع الطلاق في الحال؛ لأن معنى الكلام: أنت طالقٌ لأن دخلت الدار؛ أي: من أجلِ أنك دخلتِ الدار؛ فصار دخولُ الدارِ علة طلاقها، لا شرطًا في وقوعِ طلاقها[83].

بل إنَّ الحكم يختلف باختلافِ تصاريف الكلمة؛ فلو أنَّ رجلاً حلف ألا يلبسَ مما غزلته فلانة، فلا يحنثُ إلا بما غزلته قبل اليمين، ولو قال: مما تغزله فلا يحنثُ إلا بالذي تغزله بعد اليمين، فلو قال: من غَزْلِها دخل فيه الماضي والمستقبل[84].

مميزات اللغة وخصائصها:
اللغةُ العربية ذات ميزات عديدة، فهي أوسعُ اللغات وأصلحها؛ في جمع معانٍ، وإيجازِ عبارة، وسهولةِ جريٍ على اللسان، وجمالِ وقْعٍ في الأسماع، وسرعةِ حفظ.

ومن مميزات لغتنا الجميلة ما يلي:
1- سعة اللغة العربية:
مفرداتها وفيرة، وكلُّ مرادفٍ ذو دلالة جديدة، فالأسدُ له أسماء كثيرة لكلِّ واحد منها معنى يختصُّ به، وللناقةِ كذلك، وما من حيوان أو جماد أو نبات إلا وله الكثير من الأسماءِ والصفات، مما يدلُّ على غنى هذه اللغةِ الرائعة، ولأنواعِ الحزن والترح والأسى معانٍ متعددة، ولليوم الآخر - على سبيل المثال - أكثر من ثمانين اسمًا، عددها ابنُ قيم الجوزية - رحمه الله - في مدارج السالكين، لكلٍّ منها سبب ومعنى يختصُّ به، وهذا ما لا نجدُه في أكثر اللغات الأخرى.

قال الإمام الشافعي - رحمه الله -: "لسانُ العربِ أوسع الألسنة مذهبًا، وأكثرها ألفاظًا، ولا نعلمه يحيط بجميعِ علمه إنسانٌ غير نبي، ولكنَّه لا يذهبُ منه شيء على عامَّتها، حتى لا يكونَ موجودًا فيها مَنْ يعرِفه، والعلمُ به عند العربِ كالعِلم بالسُّنة عند أهلِ الفقه، لا نعلم رجلاً جمع السنن فلم يذهب منها عليه شيء، فإذا جمع علم عامة أهل العلم بها أتى على السُّنن، وإذا فُرّق عِلْم كلِّ واحد منهم، ذهب عليه الشيءُ منها"[85].

وأكثر مواد اللغة العربية غير مستعملة، وكثيرٌ منه غير معروف؛ قال الكسائي: "قد دَرَس من كلامِ العرب كثير"[86]، وقال أبو عمرو بن العلاء: "ما انتهى إليكم مما قالت العربُ إلا أقله، ولو جاءكم وافرًا، لجاءكم علمٌ وشعر كثير"[87]، وذكر الزبيدي في مختصر "العين" أنَّ عدةَ مستعمَلِ الكلامِ كله ومهمله ستة آلاف ألف وتسعة وخمسون ألفًا وأربعمائة (6059400)؛ والمستعملُ منها خمسةُ آلافٍ وستمائة وعشرون (5620)، والمهمل ستة آلاف ألف وستمائة ألف وثلاثة وتسعون (6600093).

وذكر عبدالغفور عطار أنَّ المستعملَ في العربية في عصرِنا الحاضر لا يكادُ يزيد على عشرةِ آلاف مادة، مع أنَّ "الصِّحاحَ" للجوهري يضم أربعين ألف مادة، و"القاموس" ستين ألف مادة، و"التكملة" ستين ألف مادة، و"اللسان" ثمانين ألف وأربعمائة، و"التاج" عشرين ومائة ألف مادة؛ حتى قال السيوطي: "وأين سائرُ اللغاتِ من السَّعة ما للغة العرب؟!"[88].

ومع أنَّ المستعمل من موادِّ اللغة العربية ليس إلا أقل القليل منها، فإنها لم تضقْ عن حاجة الإنسان وتجاربه، وخواطره وعلومه، وفنونه وآدابه؛ بل وسعت روافدَ الحضارةِ والعلوم غير المعروفة عند العربِ في أزهى العصور الإسلامية، حتى صار لسانُ حالِ لغتنا الحبيبة كما قال حافظ إبراهيم:
وَسِعْتُ كِتَابَ اللهِ لَفْظًا وَغَايَةً
وَمَا ضِقْتُ عَنْ آيٍ بِهِ وَعِظَاتِ
فَكَيْفَ أَضِيقُ اليَوْمَ عَنْ وَصْفِ آلَةٍ
وَتَنْسِيقِ أَسْمَاءٍ لَمُخْتَرَعَاتِ؟!
أَنَا الْبَحْرُ فِي أَحْشَائِهِ الدُّرُّ كَامِنٌ
فَهَلْ سَاءَلُوا الغَوَّاصَ عَنْ صَدَفَاتِي؟

وصدق حافظُ إبراهيم في كلماتِه، ولو أنها نطقتْ لتكلَّمَت بأعجب من ذلك.

2- ولغتنا قائمة على جذور متناسقة لا تجدها في اللغات الأخرى قاطبة:
فالفعلُ الماضي ذهب، ومضارعه يذهبُ، وأمره اذهب، من جذرٍ واحد، أمَّا مثيله في الإنجليزية فماضيه "went" ومضارعه وأمره "go" كلمتان مختلفتان كليًّا، وخذ مثلاً الفعل "cut" بمعنى قطع، يقطع، اقطع، تجده رسمًا واحدًا في الأزمنةِ الثلاثة كلِّها، وتضطر إلى وضعِها في جملٍ كي تعرفَ الزَّمنَ لكلٍّ منها، بينما زمن الفعل في العربية معروف.

3- كما أنَّ للأفعال المتقاربة الجذور في العربية معانيَ متشابهةً لا ترى أمثالها في اللغات الأخرى:
فالفعل (قطع) إذا بدل الحرف الأخير فقط قيل: قط، قطم، قطف، قطش، تجد فيها اشتراكًا في قضمِ الشيء إلى قطع، وفي الفعل (سما) المفتوح العين ثلاثة حروف كذلك، بدِّل الحرفَ الأخير وقلْ مثلاً: سمج، سمر، سمح، سمك، سمق، سمط، تجد اشتراكها في العلوِّ، وهكذا.