Tertawanya para nabi adalah tersenyum, sedangkan tertawanya syaitan adalah terbahak-bahak".
Alkisah, tersebutlah seorang budak Habsyi bernama Luqmanul Hakim. Ia terkenal memiliki ilmu hikmah yang dihiasi cahaya akhlak terpuji. Ilmu menonjol yang tampak pada kepribadiannya ketika tuannya menyuruhnya menyembelih seekor kambing.
... Sang tuan berkata: "Wahai pelayan sembelihkan kambing ini untukku dan berikan kepadaku dua dagingnya yang terbaik". Beberapa saat kemudian Luqmanul Hakim mendatangi tuannya dengan membawa hati dan lidah kambing tersebut. Kemudian sang tuan berkata lagi: "Sembelihlah kambing ini untukku dan berikan kepadaku dua gumpal daging yang paling buruk". Kemudian Luqmanul Hakim kembali membawa hati dan lidah kehadapan tuannya. Tuannya merasa heran dan bertanya. Luqmanul Hakim menjawab dengan tegas: "Tidak ada dua gumpal daging di dalam tubuh manusia yang lebih baik kecuali hati dan lidah, jika keduanya baik. Begitupun sebaliknya, tidak ada dua gumpal daging di dalam tubuh manusia yang paling buruk dari keduanya. Jika keduanya buruk.
Tidak dapat disangkal, hati dan lidah mempunyai peranan yang sangat penting dalam titian waktu yang kita miliki. Hati adalah perisai baik buruknya diri. Adapun lidah merupakan salah satu pelita dan benteng kehidupan yang tercipta urgen bagi semua anggota tubuh. Orang akan resfek terhadap sosok yang memiliki bahasa lidah yang indah. Lidah dijadikan ujung tombak dalam berkomunikasi, ia dapat membawa seseorang kepada kemulian dan tidak jarang dapat menggelincirkan dan menghempaskan seseorang kepada kerusakan. Dalam berinteraksi dengan lingkungan secara profesional kita dituntut sebisa mungkin menyelaraskan fungsi lidah tersebut.
Salah satu bahaya terpelesetnya lidah yang sangat tercela adalah larut dalam arena gelak tawa tanpa makna. Kerena tartawa dapat mematikan hati dan menjadikannya keras membatu. Ketika hati telah mati dan membatu segala macam hal kebaikan sulit untuk diterima dan direspon hakikat kebaikkanpun akan tersinggkir, sebaliknya semua hal yang buruk dapat diserap dengan sangat cepat.
Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw.:
"Barang siapa banyak tertawa maka akan banyak pula salahnya"
Adapun tertawa yang disenangi Allah Swt. adalah tertawa dengan menampakan gigi yang tidak terdengar irama suaranya, dan tersenyum kepada saudaranya dengan penuh kasih sayang dan rasa persaudaraan yang kuat semata-mata karena-Nya. Sedangkan tertawa yang dimurkai Allah Swt. adalah tertawa dengan terbahak-bahak. Sudah sangat jelas, tertawa yang berlebihan banyak mendatangkan tumpukan bahaya. Diantara faktor-faktor bahaya yang terkandung di dalamnya menurut Imam Abu Laits as-Samarkandi ada delapan point: Pertama: Engkau Akan dicaci oleh para ulama dan orang-orang pandai. Kedua: Engkau akan dicari oleh orang yang bodoh dan tolol. Ketiga: Jika engkau orang bodoh maka akan bertambah kebodohanmu, jika engkau orang yang berilmu maka akan berkurang ilmumu. Keempat: Engkau akan melupakan dosa-dosa yang telah lalu. Kelima: Memiliki keberanian melakukan kesalahan dan menumpuk banyak dosa. Keenam: Melupakan kematian dan hari akhirat. Ketujuh:: Akan mendapatkan gumpalan dosa disebabkan tertawamu yang berlebihan. Delapan: Dengan tertawa akan menyebabkan banyaknya menangis (menyesal) di hari akhirat nanti.
Sebagaiman Sabda Rasulullalh Saw.:
"Barang siapa yang tertawa pada masa mudanya dia akan menangis pada masa pikunnya, dan barang siapa yang tertawa pada masa kayanya dia akan menangis pada masa miskinnya. Dan barang siapa yang tertawa pada masa hidupnya maka dia akan menagis pada waktu matinya".
Ketahuilah, setiap sesuatu memiliki dua sisi yang berbeda, ada nilai positif dan ada nilai negatif di dalamnya, yang mana dua hal ini dapat mengantarkan kita pada corak makna yang berlainan dalam menjalani literatur kehidupan ini. Dua sisi ini sangat besar peranannya dalam mewarnai lembaran hari-hari kita. Kanvas keperibadian yang baik penawar ampuh yang dapat menjeput puzle-puzle kebaikkan. Sedangkan kanvas keburukan akan ikut mengantarkan kita kepada kesengsaraan dan kenistaan.
Sangatlah ironis sekali jika kita lalai menciptakan momentum dalam mengisi guratan waktu yang tengah kita jalani. Hari-hari kita hanya sekelumit hitungan waktu, ia akan berlalu tanpa makna jika kita tidak mampu menatanya dengan baik. Ia akan pergi bersama bergulirnya bingkai gelak tawa yang sia-sia.
Tulisan ini refleksi pribadi mengajak saya dan kita semua untuk selalu menjadikan hari-hari kita penuh rona indah nan bermakna. Keburukan dalam menginventasikan waktu sangatlah urgen, janganlah kita sia-siakan detik demi detik dari hari-hari kita dengan mengumbar gelak tawa syaitan. Memotret realita, tertawa terbahak-bahak sangatlah tidak pantas keluar dari lisan kita para duta agama dan bangsa ini. Mari berusaha seoptimal mungkin mempertahankan image baik yang selama ini kita sandang. Mahasiwa adalah seorang yang berilmu, maka tidak selayaknya dari lisan kita yang tidak terkontrol terdengar sesuatu yang tidak pantas diterima telinga. Karena suatu profesi yang dilakukan dengan sangat berlebihan dapat mengantarkan kita kepada aktifitas negatif.
Sejatinya, alangkah menawan jikalau setiap detak jantung dan hembusan nafas kita didominasi dengan segala bentuk perbuatan yang medatangkan keindahan dan manfaat. Adapun konsep mendasar yang menjadi akar dari seluruh amalan kita adalah dengan lebih mengedepankan pemeliharaan dan pengekangan lidah. Terakhir, penulis mengutip perkataan Umar bin khatab r.a.: "...barang siapa meninggalakan tetawa yang berlebihan maka ia akan menerima kemuliaan(kewibawaan)."
Sahabat sesungguh nya tertawa yang terbahak terkadang menyisakan rasa gundah didalam jiwa, islam tidak mengajarkan kit tertawa melainkan senyuman yang yang tidak bersuara namun tersirat penuh makna, kenapa demikina?? agar supaya bisa di bedakan mana agama yang membawa hikmah dan yang bukan,
seuntai senyum tersungging di sudut bibir
indah menawan dipandang mata
begitulah cara islam mengajarkan
bukan senyum yang terbahak namun mengundang lara
senyum,, seperti inilah senyum nya orang beriman
tidak bersuara namun sarat makna
indah menawan sebab adanya keikhlasan
Suatu kejadian hendaklah tidak kita biarkan berlalu begitu saja, namun kisah tersebut sejatinya dapat menorehkan tinta penuh rona dan dapat kita ambil pesan moral dan iktibar yang tersirat di dalamnya. Namun dalam tataran peraktis semua ini kembali kepada pribadi kita masing-masing. Waallahu ‘Alam bi as-Sawwab.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar